"Membosankan.... bukannya kehidupan ini membosankan?
Ataukah mereka kah yang membosankanku?
Ataukah aku yang bosan kepada mereka?"
- Qaniturrazan aka Neutral
Tuesday, July 29, 2014
Saturday, July 26, 2014
Hanya sebuah kutipan 3
"Kadang - kadang aku berpikir... kenapa harus ada pemikiran yang normal di dunia ini?
Dan juga sebenarnya, apa itu pemikiran normal?
Apakah mengejek nama orang itu pemikiran normal?
Apakah orang yang diam itu tidak normal?
Apakah orang yang suka diam di rumah itu tidak normal?
Hah... manusia... manusia..."
- Qaniturrazan aka Neutral
Dan juga sebenarnya, apa itu pemikiran normal?
Apakah mengejek nama orang itu pemikiran normal?
Apakah orang yang diam itu tidak normal?
Apakah orang yang suka diam di rumah itu tidak normal?
Hah... manusia... manusia..."
- Qaniturrazan aka Neutral
Monday, July 14, 2014
Hanya sebuah kutipan 2
"DI tahun ajaran baru ini... aku duduk sendiri...
Apa karena aku ini selalu tersenyum palsukah?
Apa karena aku itu terlalu bodohkah?
Apa aku itu terlalu berbeda dari mereka semua.
apa mungkin jangan - jangan tuhan telah memberiku tantangan, untuk menjadi monster yang bisa melakukan apapun semuanya sendiri?
...baiklah aku terima tantangan itu."
- Qaniturrazan aka Neutral
Apa karena aku ini selalu tersenyum palsukah?
Apa karena aku itu terlalu bodohkah?
Apa aku itu terlalu berbeda dari mereka semua.
apa mungkin jangan - jangan tuhan telah memberiku tantangan, untuk menjadi monster yang bisa melakukan apapun semuanya sendiri?
...baiklah aku terima tantangan itu."
- Qaniturrazan aka Neutral
Sunday, July 13, 2014
Hanya sebuah kutipan.
"Betapa menyenangkannya dunia ini...
betapa buruknya dunia ini....
betapa tidak konsistennya dunia ini..."
-Qaniturrazan aka Neutral
betapa buruknya dunia ini....
betapa tidak konsistennya dunia ini..."
-Qaniturrazan aka Neutral
Tuesday, July 8, 2014
Cara yang buruk untuk mengakhiri cerita yang menyedihkan.
Dunia ini benar - benar menyebalkan.
Pikirku sekarang yang sedang dipukuli oleh ayahku dengan
kedua tangannya yang besar. Ibu aku hanya bisa melihat diriku dengan tatapan
dingin sambil merokok di meja makan. Aku hanya bisa menerima serangan fisik
ayahku ini di sudut ruangan ini.
Saat disiksa, aku melihat langit yang bewarna biru. Entah
kenapa rasanya aku iri kepada langit tersebut, meski aku tidak tahu kenapa aku
iri kepada langit itu.
Tidak lama kemudian penyiksaan itu berakhir, mereka berdua
pergi meninggalkanku yang terluka seorang diri di ruangan ini. Aku hanya diam
membantu melihat langit yang berubah warna menjadi oranye.
Aku tidak mengerti... kenapa aku disiksa seperti ini...
lahir lemah begini... tidak mempunyai semangat hidup begini... juga...
kenapa aku lahir di dunia ini...
aku beranjak menuju kamarku. Kamarku hanyalah ruangan kosong
yang lantainya terdapat karpet. Di ujung kiri ruangan ini aku menyimpan buku
pelajaranku disana. Di ujung kanan nya terdapat baju yang aku gantung
menggunakan paku yang aku tancap di dinding. Apa boleh buat, masih beruntung
karena orangtuaku masih memberi aku sebuah ruangan untuk aku.
Keluargaku... ayahku yang dulunya seorang pekerja kantoran
sekarang berubah menjadi orang yang pemalas dan merokok. Sedangkan ibuku
hanyalah seorang perempuan yang sering pergi dengan pria - pria di malam hari.
Dia menikah kepada ayahku hanya karena dia "dihamili" olehnya. Jadi
mungkin bisa aku bilang kalau aku itu adalah anak yang tidak diinginkan.
Mungkin ada yang penasaran kenapa kamarku ini kosong tidak
ada apa - apa. Jawabannya simpel, karena ayahku sekarang sering meminjam uang
kepada rentenir, lalu dia gunakan uang itu untuk berjudi, tetapi dia selalu
kalah. Sehingga memberikan banyak hutang kepada keluarga ini. Dulunya disini
itu ada kamar dan juga meja belajar, tetapi sudah digadaikan demi hutang
tersebut. Apakah hutangnya masih ada? Maka aku jawab "masih, serta sangat
banyak.".
Aku melihat sekitarku. Kalau mungkin sekarang ini
ditayangkan di tv sebagai sinetron. Mungkin orang - orang akan sedih melihatku.
Juga aku akan menjadi karakter utama kali ya, yang menderita dulu di awal -
awal cerita namun di akhir - akhir menjadi orang yang paling bahagia di dunia
ini.
Hah... pada akhirnya kenyataan berbeda dengan apa yang
diimpikan. Pada akhirnya bebek tidak bisa terbang, kura - kura tidak akan
berlari cepat seperti kelinci. Begitu juga hal ini, pada akhirnya orang yang
hidupnya menderita akan menderita. Tidak akan ada seorang peri yang menolong
orang yang menderita.
...daripada berpikir tidak jelas begini, lebih baik belajar.
...
AKu sekarang pergi ke sekolah. Sekarang aku sekolah di SD
cibanungju. Aku didaftarkan ke sekolah ini karena dekat dari rumahku. Sebelum
itu juga... ayah masih menjadi pekerja kantoran dan sering membuat aku senang.
Hahaha... sekarang aku telah menjadi kelas 5, 2 tahu lagi hingga aku lulus
sekolah.
Ketika sampai di kelasku aku melihat mejaku penuh dengan
coretan, coretan - coretannya itu berisi...
"Dasar anak haram!"
"Mati saja..."
"Sudahmah bodoh tetapi tetap saja sekolah."
Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Sudah hampir setahun aku
mengalami hal ini, semenjak ayah telah berubah menjadi pemalas. Banyak sekali
gosip - gosip yang beredar tentang diriku. Gosip yang paling terkenal adalah
aku itu anak haram, dan aku adalah orang yang bodoh. Seharusnya hal itu tidak
dibilang gosip, karena aku pikir keduanya itu benar.
Pada saat guru datangpun, guru itu hanya mengacuhkan mejaku
yang terdapat coretan itu. Memulai belajar seperti tidak ada hal yang tidak
beres.
Sesaat pulang sekolahpun. Buku - bukuku dirobek oleh teman
sekelasku. Serta mereka juga melempar tasku ke suatu tempat sehingga aku harus
mencarinya hingga malam. Pada saat aku mencari tasku aku melihat keadaan
sekitarku, betapa menyenangkannya menjadi tanah atau tumbuhan. Yang diam saja
meski mereka tidak disiram, diinjak ataupun dilakukan apapun oleh manusia.
Aku berjalan, untuk pulang ke rumah. Pada saat itu aku
berpikir...
Akan sampai kapan aku terus begini?
Ditengah aku perjalanan, aku melihat sebuah jalan. Sebuah
jalan yang menanjak disekitarnya terdapat pohon dan rumput liar yang
mengerumuninya. Aku kaget, karena mungkin saking aku males hidup aku tidak
menyadari kalau ada jalan disini. Karena penasaran akhirnya aku mencoba untuk
menanjak ke atas.
Saat berada di puncak, aku melihat hanya ada satu buah pohon
yang besar. Pohon beringin yang sangat besar. Beberapa langkah kedepan, aku
melihat... sebuah kota. Kota malam hari yang sangat indah. Pada saat itu... aku
sekarang menyadari...
Aku berlari dan loncat dari gunung tersebut.
Ternyata aku itu tidak pantas untuk dilahirkan.
Friday, June 27, 2014
Itulah yang menyebabkan aku benci liburan ini (2)
Takdir
Apakah takdir itu telah menjadi ketentuan tuhan? Apakah kita dapat mengubahnya dengan kemampuan yang kita miliki?
Apakah takdir itu hal yang baik? Ataukah buruk?
Apakah takdir itu diperlukan bagi kita?
"Hahaha..." aku tertawa kepada diriku sendiri. Benar - benar aneh sekali aku berpikir seperti itu. Seperti aku itu bukanlah diriku sendiri. Perkenalkan namaku adalah Saya. Aku hanya seorang murid SMA kelas 2 yang mempunyai kehidupan seperti murid - murid lainnya. Tidak mempunyai hobi dan juga mempunyai masalah seperti orang - orang disekitarnya.
"Oi, kok diam saja sih!?" salah satu temanku mendatangiku yang sedang tertidur di meja. Aku hanya membalas dia dengan tatapa malas dan kembali tidur.
"...aku tidak mengerti apa yang kau maksud." temanku balas. Aku kembali menatap dia.
"Kamu tidak mengerti? Aku juga tidak!" kembali aku tertidur. Temanku menghela napas. "Kalau begitu, aku duluan ya. Udah lapar nih." dan pergi meninggalkanku. Sekarang aku sendiri, udara datang berhembus di samping kananku. Sayangnya udaranya dingin sehingga membuat tubuhku gemetar.
"hah..., kenapa hari ini dingin sekali?" gumamku. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam baju seragam. Sehingga kedua baju lenganku kosong tidak ada isinya. "Toh tidak ada orang yang mempedulikan ini bukan!?"
Aku tertidur.
...
Pada saat itu aku berpikir kalau kehidupan itu menyenangkan....
Aku juga saat itu berpikir kalau kehidupan adalah suatu anugerah.
Ya... saat itu aku tidak tahu apa - apa tentang kehidupan.
Kenyataan dan masa lalu itu berbeda.
Sekarang aku sedang di rumah. Berada di ruang tamu, sedang menonton tv. Aku duduk tidak jauh berhadapan dengan tv, aku juga memegang gelas berisi teh. Untuk membuat keadaanku ini hangat. Keadaan rumah ini kosong, hanya ada suara tv yang mengisi ruangannya.
Benar - benar sepi ya... pikirku terdiam melihat keadaan sekitar. Wajar sajar, orangtuaku sedang pergi kerja sehingga sering meninggalkanku sendiri. Sayangnya, aku adalah anak tunggal sehingga aku tidak mempunyai kakak ataupun adik. Ya, begitulah hidup.
Satu hal saja sih yang mengganggu. Keadaan disini dingin!!!
...
Karena aku bosan terus berada di rumah. Sekarang aku berada di jalan. Berjalan, menikmati keadaan malam yang dipenuhi oleh orang - orang. ADa yang berjualan, ada yang bersama teman - temannya bercanda, ada juga satu orang yang memainkan alat musiknya di angkot, banyaklah hal lainnya. AKu hanya melihat itu sambil berjalan - jalan. Aku sempat berpikir, kenapa aku melakukan hal yang tidak berguna seperti ini...
Jawabannya? Tidak ada tentunya! Hahaha!
"Hah..." tubuhku masih dingin. Ya, entah kenapa dalam satu hari ini tubuhku selalu saja dingin. Apa mungkin karena cuaca hari ini yang dingin? Aku lalu melihat sebuah gedung. Gedung apartemen yang menjulang tinggi, mungkin kalau aku hitung sekitar 2000 m. Gedung apartemen itu..., disitu tempat dimana ayahku bekerja. Sebagai seorang manajer sebuah apartemen. Aku ingat pada saat aku kecil ayah membawaku ke sini. saat itu dia masih sebagai seorang pelayan biasa, tetapi dia tidak pernah menyerah sehingga dia sekarang berhasil menjadi manajer.
Aku hanya melihat apartemen itu, tidak lama aku pergi meninggalkan tempat tersebut. Sekitar 10 menit aku berjalan, akhirnya aku berada di sebuah tempat. Sekolah, sekolah SD. Ya... disini, adalah tempat dimana ibu aku mengajar murid - murid. Karena keaktifannya mengajar dan juga karena dia yang disukai banyak murid. Membuatnya sekarang menjadi kepala sekolah. Sekolah itu mungkin masih ada kegiatan, karena terdapat beberapa ruangan di sekolah itu menyala terang.
...
Pada akhirnya...
Tempat terakhir dari perjalananku ini...
Adalah... rumahku sendiri. Ya, rumah yang biasa saja, tidak besar dan juga tidak kecil. Tetapi, rumah ini kosong tidak ada siapa - siapa. Benar - benar menyedihkan sekali sekarang ini, orangtuaku itu adalah orang yang bekerja giat, sehingga akhirnya mereka mendapat jabatan yang besar. Mereka terlalu giat sehingga melupakan anaknya sendiri. Hahaha, benar - benar menyedihkan...
Kedinginannku juga tetap berada di tubuhku. Kediginannku itu tidak hilang. Sekarang aku menyadari, aku menyadari kenapa kedinginanku itu tidak hilang...
Karena...
Tatapan dan kesadaranku semakin lama semakin tidak terkendali, dan akhirnya aku terjatuh di halaman depan rumahku.
...
AKu terbangun, melihat keadaan sekitarku. Ternyata aku berada di depan halaman rumahku. Pada akhirnya... orangtuaku tidaklah datang kepadaku, tidaklah membawaku ke rumah, atau paling tidak khawatir dengan keadaanku ini.
Ha...haha....HAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!
Begitulah...
Sekarang aku mengerti..
Hahahahaaaaaaa!!!!
...
hari kedua liburan ini... aku berada di sebuah restauran, restauran yang bernama reststauran "apa saja". Kenapa dinamakan restauran apa saja? Siapa yang tahu!? Mungkin karena memang restauran ini mempunyai segala makanan?
"..." aku duduk disamping seseorang dengan perempuan berbaju hitam. Lalu setelah pelayan itu melayani mereka, aku memanggilnya. "Bisa aku memesan teh asli dari jepang?" pelayan itu mengangguk dan mencatat pesananku. Dia pergi.
"...restauran ini..."
Hah... itulah kenapa aku benci liburan ini...
Apakah takdir itu telah menjadi ketentuan tuhan? Apakah kita dapat mengubahnya dengan kemampuan yang kita miliki?
Apakah takdir itu hal yang baik? Ataukah buruk?
Apakah takdir itu diperlukan bagi kita?
"Hahaha..." aku tertawa kepada diriku sendiri. Benar - benar aneh sekali aku berpikir seperti itu. Seperti aku itu bukanlah diriku sendiri. Perkenalkan namaku adalah Saya. Aku hanya seorang murid SMA kelas 2 yang mempunyai kehidupan seperti murid - murid lainnya. Tidak mempunyai hobi dan juga mempunyai masalah seperti orang - orang disekitarnya.
"Oi, kok diam saja sih!?" salah satu temanku mendatangiku yang sedang tertidur di meja. Aku hanya membalas dia dengan tatapa malas dan kembali tidur.
"...aku tidak mengerti apa yang kau maksud." temanku balas. Aku kembali menatap dia.
"Kamu tidak mengerti? Aku juga tidak!" kembali aku tertidur. Temanku menghela napas. "Kalau begitu, aku duluan ya. Udah lapar nih." dan pergi meninggalkanku. Sekarang aku sendiri, udara datang berhembus di samping kananku. Sayangnya udaranya dingin sehingga membuat tubuhku gemetar.
"hah..., kenapa hari ini dingin sekali?" gumamku. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam baju seragam. Sehingga kedua baju lenganku kosong tidak ada isinya. "Toh tidak ada orang yang mempedulikan ini bukan!?"
Aku tertidur.
...
Pada saat itu aku berpikir kalau kehidupan itu menyenangkan....
Aku juga saat itu berpikir kalau kehidupan adalah suatu anugerah.
Ya... saat itu aku tidak tahu apa - apa tentang kehidupan.
Kenyataan dan masa lalu itu berbeda.
Sekarang aku sedang di rumah. Berada di ruang tamu, sedang menonton tv. Aku duduk tidak jauh berhadapan dengan tv, aku juga memegang gelas berisi teh. Untuk membuat keadaanku ini hangat. Keadaan rumah ini kosong, hanya ada suara tv yang mengisi ruangannya.
Benar - benar sepi ya... pikirku terdiam melihat keadaan sekitar. Wajar sajar, orangtuaku sedang pergi kerja sehingga sering meninggalkanku sendiri. Sayangnya, aku adalah anak tunggal sehingga aku tidak mempunyai kakak ataupun adik. Ya, begitulah hidup.
Satu hal saja sih yang mengganggu. Keadaan disini dingin!!!
...
Karena aku bosan terus berada di rumah. Sekarang aku berada di jalan. Berjalan, menikmati keadaan malam yang dipenuhi oleh orang - orang. ADa yang berjualan, ada yang bersama teman - temannya bercanda, ada juga satu orang yang memainkan alat musiknya di angkot, banyaklah hal lainnya. AKu hanya melihat itu sambil berjalan - jalan. Aku sempat berpikir, kenapa aku melakukan hal yang tidak berguna seperti ini...
Jawabannya? Tidak ada tentunya! Hahaha!
"Hah..." tubuhku masih dingin. Ya, entah kenapa dalam satu hari ini tubuhku selalu saja dingin. Apa mungkin karena cuaca hari ini yang dingin? Aku lalu melihat sebuah gedung. Gedung apartemen yang menjulang tinggi, mungkin kalau aku hitung sekitar 2000 m. Gedung apartemen itu..., disitu tempat dimana ayahku bekerja. Sebagai seorang manajer sebuah apartemen. Aku ingat pada saat aku kecil ayah membawaku ke sini. saat itu dia masih sebagai seorang pelayan biasa, tetapi dia tidak pernah menyerah sehingga dia sekarang berhasil menjadi manajer.
Aku hanya melihat apartemen itu, tidak lama aku pergi meninggalkan tempat tersebut. Sekitar 10 menit aku berjalan, akhirnya aku berada di sebuah tempat. Sekolah, sekolah SD. Ya... disini, adalah tempat dimana ibu aku mengajar murid - murid. Karena keaktifannya mengajar dan juga karena dia yang disukai banyak murid. Membuatnya sekarang menjadi kepala sekolah. Sekolah itu mungkin masih ada kegiatan, karena terdapat beberapa ruangan di sekolah itu menyala terang.
...
Pada akhirnya...
Tempat terakhir dari perjalananku ini...
Adalah... rumahku sendiri. Ya, rumah yang biasa saja, tidak besar dan juga tidak kecil. Tetapi, rumah ini kosong tidak ada siapa - siapa. Benar - benar menyedihkan sekali sekarang ini, orangtuaku itu adalah orang yang bekerja giat, sehingga akhirnya mereka mendapat jabatan yang besar. Mereka terlalu giat sehingga melupakan anaknya sendiri. Hahaha, benar - benar menyedihkan...
Kedinginannku juga tetap berada di tubuhku. Kediginannku itu tidak hilang. Sekarang aku menyadari, aku menyadari kenapa kedinginanku itu tidak hilang...
Karena...
Tatapan dan kesadaranku semakin lama semakin tidak terkendali, dan akhirnya aku terjatuh di halaman depan rumahku.
...
AKu terbangun, melihat keadaan sekitarku. Ternyata aku berada di depan halaman rumahku. Pada akhirnya... orangtuaku tidaklah datang kepadaku, tidaklah membawaku ke rumah, atau paling tidak khawatir dengan keadaanku ini.
Ha...haha....HAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!
Begitulah...
Sekarang aku mengerti..
Hahahahaaaaaaa!!!!
...
hari kedua liburan ini... aku berada di sebuah restauran, restauran yang bernama reststauran "apa saja". Kenapa dinamakan restauran apa saja? Siapa yang tahu!? Mungkin karena memang restauran ini mempunyai segala makanan?
"..." aku duduk disamping seseorang dengan perempuan berbaju hitam. Lalu setelah pelayan itu melayani mereka, aku memanggilnya. "Bisa aku memesan teh asli dari jepang?" pelayan itu mengangguk dan mencatat pesananku. Dia pergi.
"...restauran ini..."
Hah... itulah kenapa aku benci liburan ini...
Saturday, June 21, 2014
Itulah yang menyebabkan aku benci liburan ini (1)
Sinar matahari pagi menyinari tubuhku. Suara cicadas
siang berngiang - ngiang di hutan yang berada di belakangku. Aku sekarang
sedang berada di jalan yang dibelakangnya ada hutan lebat. Menunggu seseorang. Sayangnya
dia telat dari waktu yang telah dijanjikan.
"Maaf aku telat!" suara teriakan itu sudah
aku kenal. Suara itu pasti dari dia. Seorang pacar perempuan yang seumuran
dengannku. Berambut panjang seperti putri serta memakai gaun hitam.
"Tidak apa – apa, aku cuman menunggu 3 jam
kok." jawabku tersenyum.
"...maaf." ucap dia dengan muka seperti anak
kecil yang telah dimarahi orangtuanya.
"...sudahlah." sambil aku mengusap kepala
dia. Dia senang.
"Nah, sekarang kita akan kemana?" aku
bertanya kepada dia. "...terserah kamu saja! Aku senang kemanapun selama
ada kamu!" setelah berkata itu dia tertawa.
"Begitu ya." aku meregangkan badanku. Menghela napas.
"ayo, kita pergi."
"Ya!"
...
Sekarang aku berada sekolah. Sekolah menengah atas
biasa yang tidak special atau istimewa. Disini dimana aku, masih belajar sampai
sekarang.
"Apa ada
yang kau inginkan disini?" perempuan itu bertanya.
Aku mengingat masa laluku, seorang pria berada di
tengah wc sekolah, sedang dikerumuni oleh beberapa orang pria. Lalu tidak lama kemudian
pria yang berada di tengah wc itu sendiri, memiliki banyak memar dan luka di
tubuhnya.
"Tidak, tidak ada yang aku inginkan disini. Aku
hanya ingin melihat saja.” Tanpa ekspresi aku katakan hal itu kepada dia. Dia
hanya tersenyum kepadaku sambil berkata
“Begitu.” Lalu kami berdua menuju ke sekolah. Melihat
keadaan sekolah yang kosong karena sekarang libur sekolah. Padahal sekolah ini
kosong, kenapa gerbangnya tidak ditutup? Aneh – aneh saja ini sekolah.
Saat berjalan – jalan, aku menemukan sebuah kelas
sebuah kelas yang berada di ujung korridor di depanku ini, aku ke sana. Melihat
kelas yang pintunya terbuka. Sebenarnya semua ruangan di sekolah ini ruangannya
tidak terkunci sehingga bisa dibuka, hanya saja hanya kelas ini saja yang
pintunya terbuka.
Aku masuk ke kelas ini, melihat keadaan kelas yang
meja dan kursinya di tata rapi berjejer 4 baris dengan bangku yang terdiri dari
satu meja dua kursi. Aku dan dia hanya melihat kelas ini dengan tatapan hampa.
Tidak, hanya aku saja yang menatap ini dengan hampa. Dia tetap tersenyum
seperti biasa.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” dia bertanya kepada
aku yang sedang melihat kolong meja satu demi satu. Aku tidak jawab dia dan
terus mencari. Sampai, pada saat aku berada di meja paling belakang ujung
kanan. Aku menemukan sebuah buku. Buku yang sampul depannya terobek – robek
sehingga kertas putih di dalamnya dapat terlihat sedikit.
Aku membuka buku itu, buku itu berisi materi tentang
pelajaran sejarah. Tidak ada hal yang aneh disana, kecuali saat halaman terakhir.
“DIE” terdapat kata itu di halaman terakhir buku
tersebut.
“Itu buku siapa!?” tiba – tiba perempuan itu berada di
belakangku. Melihat buku itu dengan tersenyum.
“...bukan punya siapa – siapa.” Aku menutup buku itu,
mengembalikan kembali ke kolong. Setelah itu aku keluar kelas, berjalan dan
sekarang aku berada di luar sekolah.
“Sekarang kita mau kemana!?” perempuan itu bertanya
kepadaku.
“Kita ke...”
...
Sekarang kami berdua berada di depan perpustakaan.
Bukan perpustakaan sekolah, tetapi perpustakaan umum yang terletak di samping
jalan raya. Kami berdua sedang berada di depan pintu masuk perpustakaan ini.
“Hei, apa kamu ingat tempat ini!?” tanyaku kepada dia.
Dia yang mendengar itu tertawa kecil.
“ ...tentu saja. Inikan tempat kita berdua pertama
kali bertemu bukan!?” perempuan itu dengan tersenyum berkata.
Ya, pada saat hujan deras itu... Ketika hujan deras
yang membasahi tubuhku. Aku bertemu dengan dia yang sedang berteduh di depan
gerbang perpustakaan. Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
“Semenjak itu, kita berdua sering bertemu disini
ya...”
“Ya... sehingga sekarang kita begini.”
“Huhuhu... iya.” Ya..., sampai menjadi begini.. hal
merah itu.... dia... orang – orang yang mengemuni di wc itu...
Bep! Bep! Bep! Jam tangan yang berada di tangan
kananku menunjukan pukul sebelas siang.
“...hei”
“Ada apa!?”
“Memangnya kedua orangtuamu membolehkanmu untuk keluar
rumah sekarang!?” dia terdiam sejenak dengan tersenyum.
“Iya, orangtuaku mengizinkanku. Memangnya kenapa!?”
“Begitu ya..., oh ya. Sekarang aku ada urusan dulu.
Apa kamu tidak apa – apa pulang sendiri!?”
“...tidak apa – apa kok.”
“Lagipula aku juga sekarang disuruh pulang oleh kedua
orang tuaku.” Lanjut dia berkata kepadaku.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya..., hati – hati di
jalan.” Aku melambaikan tanganku kepadanya, dia balas juga dengan senyum sambil
melambai.
Akhirnya sekarang aku sendiri. Aku sendiri berada di
taman. Sedang duduk terdiam tidak jelas. Melihat air mancur yang berada di
depan. Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, tetapi tidak bisa. Karena saat ini
orangtuaku mungkin masih berada pada hubungan tidak baik.
“Tapi... sekarang apa yang harus kamu lakukan!?”
“Bagaimana kalau kamu menalukkan dunia!?” tiba – tiba
orang itu berada di samping kananku. Orang itu diperban dan seluruh tubuhnya
kecuali mulut dan juga dia memakai headset besar. Dia sedang melihat diriku
tersenyum.
“HAH!?”
“Kenapa!? Kaget karena penampilanku ya!?”
“Tidak. Sebenarnya aku kaget karena perkataanmu!?”
“Perkataanku!? Bukan karena penampilanku ini!?”
“...kalau penampilan... daripada kaget aku lebih suka
mengatakan kalau itu aneh.”
“...begitu...” dia menundukan kepalanya ke bawah.
“Tapi!!!” kepala dia menaik ke atas. “Tidak apa – apa! Aku sudah sering
mendengarkan itu, jadi hal itu sudah biasa!”
“...jadi sebenarnya apa urusanmu denganku!?”
“Urusanku!? Cuman satu. Tempat ini itu merupakan tempat
dudukku dan sekarang kamu mendudukinya.”
“Terus!?”
“Tidakkah sudah jelas!? Beranjak lah dari kursi ini!
Aku ingin duduk di sini tahu!!!”
“...tidak mau.”
“eh!? Kenapa!?”
“Karena aku malas. Lagipula aku tidak tahu kemana
sekarang...”
“...begitu. Ternyata di dunia ini banyak sekali orang
jahat ya...”
“Hei, hanya karena aku malas dari tempat duduk ini,
bukan berarti aku itu orang jahat.”
“...tidak peduli. Jahat tetap jahat. Yasudah aku pergi
saja!” laki – laki itu pergi meninggalkan taman ini. Sekarang aku kembali lagi
sendiri. Dasar orang aneh, tiba – tiba datang dan juga marah – marah tidak
jelas.
Lalu gimana pula dia bisa melihat jika seluruh
tubuhnya di perban!? Terus gimana dia bisa mendengar kalau telinganya di tutupi
headset? ...apa mungkin aku berhalusinasi kalau dia itu ada?
...
Pada saat sore aku pulang ke rumah. Karena pada
akhirnya setelah laki – laki perban itu pergi aku hanya melihat air mancur
seperti biasa. Hah... aku menghela napasku saat berjalan sekarang. Pada saat
aku tiba di rumah aku membuka pintu.
Korridor rumah ini kosong. Memang biasanya kosong,
tetapi tidak sekosong sekarang. Seakan – akan tidak ada yang menghuni lagi
disini. Merasa aneh, aku ke ruang tamu yang berada di dekatku, disana tidak ada
seorangpun ada. Aneh, biasanya ayah atau ibu aku selalu ada disini kalau mereka
berdua ada di rumah.
Apa jangan – jangan mereka pergi!? Tidak kalau mereka
pergi seharusnya rumah ini dikunci. Tapi entah kenapa aku tidaklah takut atau
khawatir ada apa – apa kepada orangtuaku. Aku dengan tenang hanya menyelusuri
rumahku ini.
Hingga...
Di kamar orangtuaku.
Aku melihat kedua orangtuaku. Terbaring di lantai
dengan karpet merah yang berada di bawahnya. Di tengah orangtuaku itu terdapat
seseorang yang kedua tangannya bewarna merah. Lebih tepatnya, Perempuan
berambut hitam dan bergaun hitam yang sebagian di tengah tubuhnya terdapat
banyak noda merah.
“Ah! Kamu sudah datang!?” dia berkata itu dengan
tersenyum sambil membawa sebuah kado. Sebuah kado berkain hijau dengan pita
merah. Beberapa noda merah juga terdapat di kain hijau karena kedua telapak
tangannya yang berdarah.
“Ini! Selamat ulang tahun! Aku punya hadiah untuk
kamu!” kado itu dia lentangkan ke diriku. Aku mengambil kado itu, membukanya.
Di dalam kado itu terdapat kepala kedua temanku dan
juga kedua kepala yang tidak aku ketahui. Ekspresi muka kedua temanku terbelak
dengan mata dan lidah yang seakan – akan ingin keluar , sedangka kedua kepala
satu lagi tertutup matanya dengan tenang, seakan sedang tidur.
“Bagaimana!? Bagus bukan hadiah itu!?”
“Kepala kedua temanku itu aku dapat kemarin lusa malam.
Saat mereka sedang tidur pulas di rumah mereka masing – masing. Aku mendatangi
rumah mereka satu demi satu. Tentu saja aku menyapa orang tua mereka dengan
baik. Sehingga pada akhirnya aku bisa ke kamar mereka dan menyiksa mereka
sehingga kepala mereka bisa seperti itu! Hahaha! Padahal sering menyiksa orang,
tapi pada saat disiksa malah meronta – ronta meminta ampun!!”
“Dan! Dan! Setelah itu! Lihat dua kepala yang terdiam
itu bukan!? Itu adalah kepada orangtuaku. Pada saat mereka tidur di kamar di
satu ranjang, aku ambil kepala mereka tanpa disiksa dulu. Sehingga mereka bisa
merasakan kesakitan yang sesaat! Bukankah aku baik!? Padahal mereka sering
memukul dan juga mengusir diriku tapi aku masih baik membiarkan mereka mati
tanpa disiksa dulu!”
“Yang terakhir! Adalah ini! Kedua orangtuamu! Yang
selalu saja bertengkar tanpa memperhatikan dirimu sama sekali. Yang juga
membuatmu kabur dari rumah inI! Tetapi, akhirnya aku bisa membuat mereka diam.
Dan lihat mereka berdua mati sambil berpegangan tangan! Bukankah kamu senang
karena orangtuamu telah baikan sekarang!?”
...aku tidak berkata apa – apa. Hanya...
“Eh!?” aku memeluk. Memeluk dia tanpa mempedulikan
dirinya yang berdarah ini. Aku peluk erat – erat. Dia kaget saja dengan
perilakuku yang begini.
“Cukup sudah cukup... kamu memang anak baik...”
“...apa maksudmu? Aku tidak mengerti...”
“Tidak ada maksud apa – apa kok. Terima kasih
hadiahnya...” ya..., pada akhirnya kejadian ini terjadi kembali. Aku sudah tahu
kalau dia sudah rusak begini, aku juga sudah menduga kalau hal ini akan
terjadi. Tetapi... tidak apa – apa...
Pada akhirnya aku masih mencintaimu...
---
Pagi yang cerah ini, aku dan dia sekarang berada di
restaurant. Restaurant yang berbentuk atapnya punden berundak – undak dengan
judul “Restaurant Apa saja”. Aku terpaksa untuk makan di restoran ini, karena
bau rumahku itu bau mayat. Membuat nafsu makanku hilang.
“Hei, kamu mau pesan apa!?” tanya dia kepadaku.
“Kalau kamu mau apa!?”
“Kalau aku sih. Apapun makanannya yang kamu sukai.” Jawab
dia tersenyum.
“Begitu ya... kalau begitu...” aku memanggil salah
satu pelayang perempuan di dekat sini.
“nasi gila porsi raksaksa ya. Oh ya pedasnya juga
banyak. Untuk dua orang.” Pelayan itu terbengong sejenak, menulis pesanan itu
dan pergi dari tempat ini.
“...itu makanan yang tidak aku sukai.”
“Kan, katanya makanan yang sama dengan aku.”
“U...Bodoh!” kesal dia sambil memukulku.
Hah... padahal baru hari kedua liburan. Tetapi,
sekarang aku harus membereskan mayat dan juga bukti... padahal aku ingin tidur sebanyak banyaknya di
liburan ini...
Aku melihat dia, dia tersenyum saja melihat aku yang
begini. Aku menghela napas.
Itulah kenapa aku benci liburan ini.
(C)opyright Neutral
Friday, May 30, 2014
Ah itu dia...
Aku sedang memikirkan suatu kata. Tidak tahu tentang apa, aku tetap saja memikirkan perkataan itu. Aku punya perasaan kalau perkataan itu sering aku ucapkan kepada pikiranku.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" bahkan - bahkan temanku mengarakan hal itu ketika kami berdua makan di kantin. Tapi, aku hanya mengatakan kepada mereka aku hanya melamun karena aku pikir kalau lupa bukannya perkataan itu tidak berguna?
Lalu pada saat di rumah aku membuka laptop dan memainkan game yang berada di dalamnya. Entah kenapa pada saat main game aku merasa perkataan itu sering dibilang kepada orangtuaku ketika bermain game. Entah kenapa, setelah mengingat itu aku malas bermain game, segera ke kamar untuk mengganti baju.
Setelah mengganti baju, aku belajar karena aku tidak ada kerjaan lain, makanya sekarang aku belajar. 10 menit, 20 menit, aku belajar tetapi tidak ada apapun yang masuk ke dalam pikiranku. Padahal waktu sd, aku adakah orang yang paling pintar di kelas, sekarang? Paling bodoh di kelas. ...entah kenapa, saat aku berpikir itu aku merasa kata itu sering aku katakan ketika aku sendiri di kamar.
Besoknya, aku kembali sekolah. Saat perjalanan di sekolah, aku melihat seseorang yang cantik, berwivawa, dan anggun berjalan. Banyak laki - laki yang terpikat kepada dia. Aku nengetahui itu karena wajah mereka yang menghadap dia dengan senangnya.
"Hei! Tidakkah kau lihat dia? Sudah baik! Pintar! Cantik lagi! Siapa coba yang tidak suka sama dia?"
"Ya banget! Enak ya, aku jadi iri yang sekelas sama dia"
Begitulah kata beberapa orang laki - laki itu. Aku mengacuhkan mereka dan berjalan ke kelasku. Tidak tahu kenapa melihat mereka aku merasa bahwa aku sering mengatakan kata tersebut.
Sebenarnya apa kata itu?
...
Pulang sekolah, aku keluar dari gerbang. Lebih tepatnya, berdiam diri di gerbang. Melihat orang berjalan, ada yang berjalan ke kanan arahku, ke kiri arahku, dan ada yang menyebrang di zebra cross.
Sebenarnya untuk apa aku melihat ini? Toh rumahku itu bukan melewati gerbang depan sekolah ini.
Keluar dari gerbang belakang, berjalan menginjak aspal abu yang tebal ini, aku bukan di jalan raya loh, tetapi di jalan kompleks yang alebarnya hanya muat 2 orang saja.
Aku berhenti. Melihat keadaan sekitar, tapi aku tidak melihat apa - apa kecuali satu jalan yang searah jalanku.
Aku berjalan, di satu jalan itu. Lama kelamaan, jalan itu mengantarkanku ke tempat ini. Tempat yang mirip taman, tetapi yang beda hanyalah di tempat ini hanya terdapat beberapa kuburan dan juga satu kursi dan tali menggantung di depanku.
Saat itu aku tahu apa kata - kata yang aku cari selama ini.
"Kenapa aku tidak mati saja?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" bahkan - bahkan temanku mengarakan hal itu ketika kami berdua makan di kantin. Tapi, aku hanya mengatakan kepada mereka aku hanya melamun karena aku pikir kalau lupa bukannya perkataan itu tidak berguna?
Lalu pada saat di rumah aku membuka laptop dan memainkan game yang berada di dalamnya. Entah kenapa pada saat main game aku merasa perkataan itu sering dibilang kepada orangtuaku ketika bermain game. Entah kenapa, setelah mengingat itu aku malas bermain game, segera ke kamar untuk mengganti baju.
Setelah mengganti baju, aku belajar karena aku tidak ada kerjaan lain, makanya sekarang aku belajar. 10 menit, 20 menit, aku belajar tetapi tidak ada apapun yang masuk ke dalam pikiranku. Padahal waktu sd, aku adakah orang yang paling pintar di kelas, sekarang? Paling bodoh di kelas. ...entah kenapa, saat aku berpikir itu aku merasa kata itu sering aku katakan ketika aku sendiri di kamar.
Besoknya, aku kembali sekolah. Saat perjalanan di sekolah, aku melihat seseorang yang cantik, berwivawa, dan anggun berjalan. Banyak laki - laki yang terpikat kepada dia. Aku nengetahui itu karena wajah mereka yang menghadap dia dengan senangnya.
"Hei! Tidakkah kau lihat dia? Sudah baik! Pintar! Cantik lagi! Siapa coba yang tidak suka sama dia?"
"Ya banget! Enak ya, aku jadi iri yang sekelas sama dia"
Begitulah kata beberapa orang laki - laki itu. Aku mengacuhkan mereka dan berjalan ke kelasku. Tidak tahu kenapa melihat mereka aku merasa bahwa aku sering mengatakan kata tersebut.
Sebenarnya apa kata itu?
...
Pulang sekolah, aku keluar dari gerbang. Lebih tepatnya, berdiam diri di gerbang. Melihat orang berjalan, ada yang berjalan ke kanan arahku, ke kiri arahku, dan ada yang menyebrang di zebra cross.
Sebenarnya untuk apa aku melihat ini? Toh rumahku itu bukan melewati gerbang depan sekolah ini.
Keluar dari gerbang belakang, berjalan menginjak aspal abu yang tebal ini, aku bukan di jalan raya loh, tetapi di jalan kompleks yang alebarnya hanya muat 2 orang saja.
Aku berhenti. Melihat keadaan sekitar, tapi aku tidak melihat apa - apa kecuali satu jalan yang searah jalanku.
Aku berjalan, di satu jalan itu. Lama kelamaan, jalan itu mengantarkanku ke tempat ini. Tempat yang mirip taman, tetapi yang beda hanyalah di tempat ini hanya terdapat beberapa kuburan dan juga satu kursi dan tali menggantung di depanku.
Saat itu aku tahu apa kata - kata yang aku cari selama ini.
"Kenapa aku tidak mati saja?"
Wednesday, May 28, 2014
terkunci
Apa yang terjadi denganku? Itulah yang aku pikirkan sekarang yang sedang terlentang di kamar tidurku. Aku mengangkat tubuhku. Keluar dari kamar dan menuju kamar mandi.
....kira - kira sudah berapa lama aku telah berubah, yang dulunya selalu bangun pagi dengan segar bugar seperti yang ingin menuju sekolah, sekarang hanyalah lesu menjalani kehidupan.
Aku menghela napas dan setelah mencuci muka aku berjalan ke ruang tamu. Aku duduk, mengambil remite yang berada di kursi dan menyalakan televisi. Di samping kanan televisi itu terdapat jendela.
"Sudah lama ya..." ucapku saat melihat jendela tersebut, kemudian kembali menonton televisi. Saat menonton televisi, aku ingat suatu hal, saat kecil aku sering bermain bersama teman - temanku dengan senang, tanpa memikirkan apapun. Sekarang? Aku tidak pernah bermain dengan "teman" lagi sekarang.
Ketika televisi menampilkan film tentang pertemanan. Aku langsung mematikan televisi. Soalnya kalau lihat itu bisa - bisa aku jadi ingin membunuh. Toh udah dilakukan sih.
Sebelum aku ingin kembali ke kamarku aku melihat pintu. Pintu yang dibelakangnya terdapat terlas yang ada satu pasang sendal. Aku segera ke pintu itu.
Membukanya.
Tidak terbuka.
Pintu itu tidak terbuka. Aku sudah tahu, aku sudah tahu kenapa pintu itu sudah tidak bisa terbuka. Karena aku sudah membuang kunci itu je suatu tempat.
Disini, di tempat ini aku terus diam. Agar seseorang yang diluar membukakan pintu untukku. Sebelum aku menjadi...
....kira - kira sudah berapa lama aku telah berubah, yang dulunya selalu bangun pagi dengan segar bugar seperti yang ingin menuju sekolah, sekarang hanyalah lesu menjalani kehidupan.
Aku menghela napas dan setelah mencuci muka aku berjalan ke ruang tamu. Aku duduk, mengambil remite yang berada di kursi dan menyalakan televisi. Di samping kanan televisi itu terdapat jendela.
"Sudah lama ya..." ucapku saat melihat jendela tersebut, kemudian kembali menonton televisi. Saat menonton televisi, aku ingat suatu hal, saat kecil aku sering bermain bersama teman - temanku dengan senang, tanpa memikirkan apapun. Sekarang? Aku tidak pernah bermain dengan "teman" lagi sekarang.
Ketika televisi menampilkan film tentang pertemanan. Aku langsung mematikan televisi. Soalnya kalau lihat itu bisa - bisa aku jadi ingin membunuh. Toh udah dilakukan sih.
Sebelum aku ingin kembali ke kamarku aku melihat pintu. Pintu yang dibelakangnya terdapat terlas yang ada satu pasang sendal. Aku segera ke pintu itu.
Membukanya.
Tidak terbuka.
Pintu itu tidak terbuka. Aku sudah tahu, aku sudah tahu kenapa pintu itu sudah tidak bisa terbuka. Karena aku sudah membuang kunci itu je suatu tempat.
Disini, di tempat ini aku terus diam. Agar seseorang yang diluar membukakan pintu untukku. Sebelum aku menjadi...
Tuesday, May 27, 2014
Lie
"Kalau begitu... aku mulai sekarang" ucap seorang laki - laki berjaket hitam yang duduk di hadapan seorang pria yang memakai baju seragam SMA. Pria itu hanya tersenyum polos kepadanya.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita mulai dari perkanalan dasar. Siapa namamu?"
"Namaku adalah Lie"
"...berapa umurmu?"
"Baju ini sudah memberitahumu."
"Terus..., apa yang kamu lakukan sekarang!?"
"Menggerakkan mulutku untuk membalas mulutmu."
"...aku ganti pertanyaannya. Apa kegiatan yang kamu sering lakukan, ah lebih tepatnya mungkin hobi kamu itu apa!?"
"Hobi aku ya..." pria itu hanya tertawa kecil dengan polos."Banyak sekali, bermain bersama dia, belajar bersama dia, tertawa bersama dia, marah sama dia, dan banyak sekali hal yang aku sukai." pria berjubah hitam hanya diam mendengar seksama perkatannya.
"Begitu ya..., senangnya yang punya hobi banyak, kalau aku malah enggak punya hobi. Enaknya jadi muda..."
"Ah, enggak itu biasa saja..." balas pria berbaju SMA itu.
"Lie, apakah kamu punya cita - cita di dalam hidupmu!?"
"Cita - cita!?"
"Ya, sesuatu yang ingin kamu capai selama hidupmu! Bukankah kau punya!?"
"...aku punya satu sih. Meski aku pikir itu tidak mungkin untuk mencapainya..."
"Apa itu!?"
"....." pria itu hanya tersenyum dengan polos melihat dia.
"...kalau kau tidak bisa bilang. Tida apa - apa, tidak perlu dipaksakan." tapi pria itu tetap terdiam.
"apa yang kamu pikirkan sekarang."
"Dia."
"Dia!?" orang berjaket hitam itu alisnya naik. "Apa kamu bisa menjelaskan lebih lanjut siapa itu dia!?"
"Dia... ya dia... selalu berada di sampingku. Selalu saja menghiburku ketika aku
erluka, selalu saja melapangkan dadanya untuk aku terdampar disana..."
"Selalu... semuanya selalu... YA... semuanya... dia... YA! Yaaa!!"
"Lie! Tenang! Tenang!"
"YAA!! DIA! DIA! KARENA MEREKA! KARENA MEREKA! MEMBUAT DIA MENJADI! MENJADI! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" tiba - tiba pria laki - laki itu mengamuk. Orang berjaket hitam itu segera keluar dari ruangan hingga di ruangan itu tidak ada siapa - siapa.
"..." setelah tenang, pria itu ke kamar tidur yang tidak jauh dari meja itu. Di sana terdapat seseorang yang berambut hitam tergeletak di kasurnya, Laki = laki itu hanya tersenyum dan merebahkan diri di kasur,
"Dengan ini... hanya ada kita berdua..."
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita mulai dari perkanalan dasar. Siapa namamu?"
"Namaku adalah Lie"
"...berapa umurmu?"
"Baju ini sudah memberitahumu."
"Terus..., apa yang kamu lakukan sekarang!?"
"Menggerakkan mulutku untuk membalas mulutmu."
"...aku ganti pertanyaannya. Apa kegiatan yang kamu sering lakukan, ah lebih tepatnya mungkin hobi kamu itu apa!?"
"Hobi aku ya..." pria itu hanya tertawa kecil dengan polos."Banyak sekali, bermain bersama dia, belajar bersama dia, tertawa bersama dia, marah sama dia, dan banyak sekali hal yang aku sukai." pria berjubah hitam hanya diam mendengar seksama perkatannya.
"Begitu ya..., senangnya yang punya hobi banyak, kalau aku malah enggak punya hobi. Enaknya jadi muda..."
"Ah, enggak itu biasa saja..." balas pria berbaju SMA itu.
"Lie, apakah kamu punya cita - cita di dalam hidupmu!?"
"Cita - cita!?"
"Ya, sesuatu yang ingin kamu capai selama hidupmu! Bukankah kau punya!?"
"...aku punya satu sih. Meski aku pikir itu tidak mungkin untuk mencapainya..."
"Apa itu!?"
"....." pria itu hanya tersenyum dengan polos melihat dia.
"...kalau kau tidak bisa bilang. Tida apa - apa, tidak perlu dipaksakan." tapi pria itu tetap terdiam.
"apa yang kamu pikirkan sekarang."
"Dia."
"Dia!?" orang berjaket hitam itu alisnya naik. "Apa kamu bisa menjelaskan lebih lanjut siapa itu dia!?"
"Dia... ya dia... selalu berada di sampingku. Selalu saja menghiburku ketika aku
erluka, selalu saja melapangkan dadanya untuk aku terdampar disana..."
"Selalu... semuanya selalu... YA... semuanya... dia... YA! Yaaa!!"
"Lie! Tenang! Tenang!"
"YAA!! DIA! DIA! KARENA MEREKA! KARENA MEREKA! MEMBUAT DIA MENJADI! MENJADI! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" tiba - tiba pria laki - laki itu mengamuk. Orang berjaket hitam itu segera keluar dari ruangan hingga di ruangan itu tidak ada siapa - siapa.
"..." setelah tenang, pria itu ke kamar tidur yang tidak jauh dari meja itu. Di sana terdapat seseorang yang berambut hitam tergeletak di kasurnya, Laki = laki itu hanya tersenyum dan merebahkan diri di kasur,
"Dengan ini... hanya ada kita berdua..."
Friday, May 23, 2014
Tidak ada yang membaca.
Sudah lama aku tidak kesini. Rasanya, masih sama saja tidak ada siapa - siapa.
Tetapi itu ok. Karena pada akhirnya aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Mulai sekarang aku akan terus bercerita.
Meski tidak ada seorangpun yang membacanya.
Thursday, January 16, 2014
Kenapa?
Kenapa..
Setiap kali aku berbicara. AKu tidak bisa berbicara dengan jelas. Kenapa aku tidak bisa mengatakan hal yang sesuai dengan aku inginkan.
Kenapa tidak ada yang bisa mendengar jeritan hatiku ini?
Kenapa tidak ada orang yang mengerti kesedihanku ini?
Kenapa tidak ada orang yang mengerti kesendirianku ini?
kenapa tidak ada orang yang bisa mengerti kebosananku ini?
Apa karena aku ini aneh?
Apa karena aku ini terlalu bodoh untuk kalian semua?
Seseorang..
itulah tulisan yang yang berada di kertas meja ruang pasien ruang psikiater 482.
Yang di dalam ruangan itu banyak sekali barang - barang yang rusak, kecuali meja dan kertas itu sendiri.
Setiap kali aku berbicara. AKu tidak bisa berbicara dengan jelas. Kenapa aku tidak bisa mengatakan hal yang sesuai dengan aku inginkan.
Kenapa tidak ada yang bisa mendengar jeritan hatiku ini?
Kenapa tidak ada orang yang mengerti kesedihanku ini?
Kenapa tidak ada orang yang mengerti kesendirianku ini?
kenapa tidak ada orang yang bisa mengerti kebosananku ini?
Apa karena aku ini aneh?
Apa karena aku ini terlalu bodoh untuk kalian semua?
Seseorang..
itulah tulisan yang yang berada di kertas meja ruang pasien ruang psikiater 482.
Yang di dalam ruangan itu banyak sekali barang - barang yang rusak, kecuali meja dan kertas itu sendiri.
Wednesday, January 15, 2014
fantasi dalam kenyataan
Aku mempermainkan hidup.
Seakan - akan hanyalah permainan dunia maya.
Aku menganggap pujian sebagai "perkataan komputer"
aku menganggap menganggap pelajaran itu sebagai "xp"
aku menganggap teman sebagai "npc"
aku menganggap kehidupan itu seperti "rpg"
aku menganggap semuanya seperti grafic computer.
Bisa dihancurkan, diubah dan bahkan...
bisa dihidupkan sesukanya.
Hm... gimana ya kalau aku buat dunia yang kayak gitu?
Pasti akan menyenangkan...
Toh...
Pada akhirnya aku tidak bisa apa - apa... pisau yang berada di dadaku ini telah mengeluarkan banyak darah..
kesadaranku... semakin pudar..
seandainya ini game... mungkin...
aku... tidak akan sesedih ini..
Seakan - akan hanyalah permainan dunia maya.
Aku menganggap pujian sebagai "perkataan komputer"
aku menganggap menganggap pelajaran itu sebagai "xp"
aku menganggap teman sebagai "npc"
aku menganggap kehidupan itu seperti "rpg"
aku menganggap semuanya seperti grafic computer.
Bisa dihancurkan, diubah dan bahkan...
bisa dihidupkan sesukanya.
Hm... gimana ya kalau aku buat dunia yang kayak gitu?
Pasti akan menyenangkan...
Toh...
Pada akhirnya aku tidak bisa apa - apa... pisau yang berada di dadaku ini telah mengeluarkan banyak darah..
kesadaranku... semakin pudar..
seandainya ini game... mungkin...
aku... tidak akan sesedih ini..
Saturday, January 11, 2014
Hitam yang meledak.
Kau dan aku berbeda.
Kita tidaklah sama.
Apakah aku harus selalu mengikuti perkataanmu? Apakah idemu harus selalu diterima?
Menyebalkan. Kenapa lagi kalian semua mau - mau saja dengannya? Dan meninggalkan aku sendiri.
Sendiri.
Sendiri.
...fine.
Jika itu keinginan kalian semua.
Akan aku buktikan..
Pada suatu saat nanti... kalian akan menyesal. Karena perbuatan kalian.. aku begini.
"AAAAAAAAA!" teriakan seorang pria saat seseorang menancapkan pisau itu dengan muka dingin. Lalu orang yang menancapkan pisau itu hanya melihatnya sejenak, lalu pergi ke luar ruangan.
Kita tidaklah sama.
Apakah aku harus selalu mengikuti perkataanmu? Apakah idemu harus selalu diterima?
Menyebalkan. Kenapa lagi kalian semua mau - mau saja dengannya? Dan meninggalkan aku sendiri.
Sendiri.
Sendiri.
...fine.
Jika itu keinginan kalian semua.
Akan aku buktikan..
Pada suatu saat nanti... kalian akan menyesal. Karena perbuatan kalian.. aku begini.
"AAAAAAAAA!" teriakan seorang pria saat seseorang menancapkan pisau itu dengan muka dingin. Lalu orang yang menancapkan pisau itu hanya melihatnya sejenak, lalu pergi ke luar ruangan.
Friday, January 10, 2014
Orang yang terbuka.
Orang yang terbuka.
Selalu menyembunyikan sesuatu yang berada di dalam hatinya.
Pasti mungkin ada satu atau dua orang yang dia beritahu isi hatinya. Sayangnya orang terbuka itu sangatlah tertutup dengan apa yang ada di dalam hatinya.
mereka itu menyimpan bomb. Bomb yang kecil, yang bahkan bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
Tetapi, semakin banyak dia menyimpan sesuatu. Berarti semakin banyak bomb yang dia simpan.. dan mungkin pada suatu saat... suatu saat dimana bomb itu sudah tidak tertahankan..
bomb itu akan...
"BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!" seseorang teriak perkataan itu dengan keras. Sehingga dia menjadi bahan penglihatan. Begitu juga dengan temannya.
"Kenapa teriak gitu tiba - tiba oi?" tanya seorang temannya.
"ah enggak sedang mikirin langit biru, dan diri sendiri."
"Buahahaahahha!" teman - temannya tertawa setelah mendengar itu.
"Ahaha. Seperti biasa, kamu itu orang yang kocak. Salut dah!"
"Begitukah? Hmm.." dan dia hanya tersenyum. Akhirnya mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Selalu menyembunyikan sesuatu yang berada di dalam hatinya.
Pasti mungkin ada satu atau dua orang yang dia beritahu isi hatinya. Sayangnya orang terbuka itu sangatlah tertutup dengan apa yang ada di dalam hatinya.
mereka itu menyimpan bomb. Bomb yang kecil, yang bahkan bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
Tetapi, semakin banyak dia menyimpan sesuatu. Berarti semakin banyak bomb yang dia simpan.. dan mungkin pada suatu saat... suatu saat dimana bomb itu sudah tidak tertahankan..
bomb itu akan...
"BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!" seseorang teriak perkataan itu dengan keras. Sehingga dia menjadi bahan penglihatan. Begitu juga dengan temannya.
"Kenapa teriak gitu tiba - tiba oi?" tanya seorang temannya.
"ah enggak sedang mikirin langit biru, dan diri sendiri."
"Buahahaahahha!" teman - temannya tertawa setelah mendengar itu.
"Ahaha. Seperti biasa, kamu itu orang yang kocak. Salut dah!"
"Begitukah? Hmm.." dan dia hanya tersenyum. Akhirnya mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Thursday, January 9, 2014
Dingin.
Dingin.
Keadaan ini.
Dingin.
Tangannku ini.
Dingin.
Cairan yang mengalir ini.
Dingin.
Mayat yang berada di depanku ini.
Panas.
Air mataku yang mengalir ini.
Keadaan ini.
Dingin.
Tangannku ini.
Dingin.
Cairan yang mengalir ini.
Dingin.
Mayat yang berada di depanku ini.
Panas.
Air mataku yang mengalir ini.
Wednesday, January 8, 2014
Penderitaan.
Sendiri.
Benar - benar sangatlah sendiri di dalam ribuan orang.
Gelap.
Sangatlah gelap. Benar - benar tidak terlihat apapun sama sekali. Meskipun terang
Sedih.
Sangatlah menyedihkan. Sehingga aku tidak bisa menitikkan air mata.
Menyesal.
tidak bisa lagi aku ulangi waktu itu.
Penderitaanku.
Tidak ada seseorangpun yang mempedulikan.
Benar - benar sangatlah sendiri di dalam ribuan orang.
Gelap.
Sangatlah gelap. Benar - benar tidak terlihat apapun sama sekali. Meskipun terang
Sedih.
Sangatlah menyedihkan. Sehingga aku tidak bisa menitikkan air mata.
Menyesal.
tidak bisa lagi aku ulangi waktu itu.
Penderitaanku.
Tidak ada seseorangpun yang mempedulikan.
sukses
sukses.
Apa itu sebenarnya sukses? Apakah dengan mengalahkan musuh yang kuat itu disebut sukses?
Apakah mencetak gol lebih banyak dari lawan adalah sukses?
Bukan?
Lalu apa itu sukses?
Apakah mendapatkan kekayaan yang sangatlah banyak itu sukses?
BIsa membuat perempuan jatuh cinta kepada kita itu sukses?
Bukan juga?
Kalau begitu apa yang menyebabkan seseorang sukses?
"Jawabannya hanya satu..."
"membuat aku puaslah yang termasuk sukses"
Apa itu sebenarnya sukses? Apakah dengan mengalahkan musuh yang kuat itu disebut sukses?
Apakah mencetak gol lebih banyak dari lawan adalah sukses?
Bukan?
Lalu apa itu sukses?
Apakah mendapatkan kekayaan yang sangatlah banyak itu sukses?
BIsa membuat perempuan jatuh cinta kepada kita itu sukses?
Bukan juga?
Kalau begitu apa yang menyebabkan seseorang sukses?
"Jawabannya hanya satu..."
"membuat aku puaslah yang termasuk sukses"
Ini bukan salahku.
"Ini bukan salahku..."
Drap! Drap! Drap! Suara hentakan kaki itu mewarnai keadaan gelap yang sunyi itu.
"Ini bukan salahku.."
Suara hentakan kaki itu masih terdengar. Hanya saja, terdapat suara cipratan air di pada saat dia menghentakan kakinya.
"Ini bukan salahku..."
kakinya masih saja berjalan tidak tahu ke arah mana. Karena disekitarnya hanya terlihat bewarna merah.
"Ini bukan salahku..."
pada saat dia berjalan ada seseorang yang berbaring. Seseorang itu terlihat banyak sekali merah di sekitarnya, tetapi dia masih hidup.
"Bukan salahku..." dan pada saat itu juga kepalanya ditusuk oleh pisau yang berada di tangan dia.
"jika aku begini."
Drap! Drap! Drap! Suara hentakan kaki itu mewarnai keadaan gelap yang sunyi itu.
"Ini bukan salahku.."
Suara hentakan kaki itu masih terdengar. Hanya saja, terdapat suara cipratan air di pada saat dia menghentakan kakinya.
"Ini bukan salahku..."
kakinya masih saja berjalan tidak tahu ke arah mana. Karena disekitarnya hanya terlihat bewarna merah.
"Ini bukan salahku..."
pada saat dia berjalan ada seseorang yang berbaring. Seseorang itu terlihat banyak sekali merah di sekitarnya, tetapi dia masih hidup.
"Bukan salahku..." dan pada saat itu juga kepalanya ditusuk oleh pisau yang berada di tangan dia.
"jika aku begini."
Tuesday, January 7, 2014
halo
"halo." seorang laki - laki mengucapkan salam pada salah seorang yang berada di jalan. Tetapi laki - laki itu hanya diam saja dengan bingung karena dia tidak mengetahui dia sama sekali.
"apa kau tahu kalau langit itu biru?" lalu laki - laki itu melihat ke langit. Dan kembali menghadapnya.
"Iya. Memangnya kenapa?" lalu dia tertawa setelah mendengar itu. Lalu..
"Itu berarti... KAMU MATI!"
saat itu juga tiba - tiba truk datang menabraknya, mendorongnya sangat jauh dan pada saat dia kembali ke tanah dia mati.
Sementara dia hanya tersenyum.
"apa kau tahu kalau langit itu biru?" lalu laki - laki itu melihat ke langit. Dan kembali menghadapnya.
"Iya. Memangnya kenapa?" lalu dia tertawa setelah mendengar itu. Lalu..
"Itu berarti... KAMU MATI!"
saat itu juga tiba - tiba truk datang menabraknya, mendorongnya sangat jauh dan pada saat dia kembali ke tanah dia mati.
Sementara dia hanya tersenyum.
muka.
Aku melihat diriku di cermin.
Aku melihat muka.
Ya... muka, atau mungkin bisa dibilang wajah.
muka seseorang yang selalu tersenyum. Polos, seakan - akan kehidupan itu sangatlah menyenangkan dan tidak ingin ada kesedihan.
DOR! Suara tembakan melesat dan merusak cermin yang berada di depanku.
Pada akhirnya... muka seperti itulah yang sangat aku benci.
Aku melihat muka.
Ya... muka, atau mungkin bisa dibilang wajah.
muka seseorang yang selalu tersenyum. Polos, seakan - akan kehidupan itu sangatlah menyenangkan dan tidak ingin ada kesedihan.
DOR! Suara tembakan melesat dan merusak cermin yang berada di depanku.
Pada akhirnya... muka seperti itulah yang sangat aku benci.
Aku : 0
Aku.
Berbeda dari yang lain. Diriku ini, tidaklah sama.
Aku hanyalah aku seorang manusia biasa yang berbeda dari manusia lain.
Seorang manusia lain yang berbeda dari manusia lain.
Aku berdiri sendiri.
Hidup.
Tanpa teman ataupun bantuan.
Aku hidup sendiri.
Kehidupanku seperti padang pasir yang luas. Tidak ada satupun yang hidup.
Kecuali aku sendiri.
Berbeda dari yang lain. Diriku ini, tidaklah sama.
Aku hanyalah aku seorang manusia biasa yang berbeda dari manusia lain.
Seorang manusia lain yang berbeda dari manusia lain.
Aku berdiri sendiri.
Hidup.
Tanpa teman ataupun bantuan.
Aku hidup sendiri.
Kehidupanku seperti padang pasir yang luas. Tidak ada satupun yang hidup.
Kecuali aku sendiri.
Sebab dan akibat.
hanya cerita simple.
Aku akan menceritakan kepada kalian cerita yang simpel.
Berkisah pada seorang laki - laki yang ceria. Dia selalu tersenyum
Dan dia selalu melakukan hal baik.
Mendengar keluh kesah dan membantu temannya.
Tidak pernah mengejek temannya.
Dan terus berbuat hal baik sehingga mati. Dan tetap tersenyum.
Bagaimana? ceritanya simpel bukan? Dan juga kalau dilihat sekarang bukannya
Tapi...
Apa kau pikir dia bahagia? Karena melakukan itu dia bahagia?
Bagaimana jika aku ceritakan lagi lebih detail...
Seperti..
Berkisah pada seorang laki - laki yang selalu ceria.
Yang selalu melakukan hal - hal baik.
selalu Mendengar keluh kesah dan membantu temannya.
Tidak pernah mengejek temannya.
Dan terus berbuat hal baik, sehingga ia mati.
Tapi...
Tapi, ketika laki - laki itu sedih tidak ada seorangpun yang menghiburnya. Dia hanya bisa tersenyum.
Pada saat dia kesusahan tidak ada yang membantunya. Karena dia tidak bisa mengungkapkannya dia hanya bisa tersenyum.
Pada saat dia sedih, tidak ada yang menghiburnya. Karena dia tidak bisa mengungkapkannya, dia hanya bisa tersenyum.
Sehingga ia menangis di dalam hati. Dia menangis tersedu - sedu. Meskipun dia tersenyum dari luar.
Tidak ada seorangpun yang menolongnya.
Tidak ada.
Pada akhirnya, pada saat dia mau mati dia tetap tersenyum.
Meski di dalam hatinya ia menangis.
Menangis..
Dan dia mati.
....
....
Berkisah pada seorang laki - laki yang ceria. Dia selalu tersenyum
Dan dia selalu melakukan hal baik.
Mendengar keluh kesah dan membantu temannya.
Tidak pernah mengejek temannya.
Dan terus berbuat hal baik sehingga mati. Dan tetap tersenyum.
Bagaimana? ceritanya simpel bukan? Dan juga kalau dilihat sekarang bukannya
Tapi...
Apa kau pikir dia bahagia? Karena melakukan itu dia bahagia?
Bagaimana jika aku ceritakan lagi lebih detail...
Seperti..
Berkisah pada seorang laki - laki yang selalu ceria.
Yang selalu melakukan hal - hal baik.
selalu Mendengar keluh kesah dan membantu temannya.
Tidak pernah mengejek temannya.
Dan terus berbuat hal baik, sehingga ia mati.
Tapi...
Tapi, ketika laki - laki itu sedih tidak ada seorangpun yang menghiburnya. Dia hanya bisa tersenyum.
Pada saat dia kesusahan tidak ada yang membantunya. Karena dia tidak bisa mengungkapkannya dia hanya bisa tersenyum.
Pada saat dia sedih, tidak ada yang menghiburnya. Karena dia tidak bisa mengungkapkannya, dia hanya bisa tersenyum.
Sehingga ia menangis di dalam hati. Dia menangis tersedu - sedu. Meskipun dia tersenyum dari luar.
Tidak ada seorangpun yang menolongnya.
Tidak ada.
Pada akhirnya, pada saat dia mau mati dia tetap tersenyum.
Meski di dalam hatinya ia menangis.
Menangis..
Dan dia mati.
....
....
Hari ini.
Hari ini...
Cuacanya bagus sekali...
Dan juga, sekarang aku benar - benar beruntung.
Hehehe... kenapa? Pasti penasaran kan?
Hm? Tidak. Well, enggak apa - apa sih. Kalau enggak penasaran juga tetap akan aku kasih tahu..
Karena..
pada akhirnya. Impianku telah terkabul. Ya impianku telah terkabul.
Akhirnya aku bisa berkumpul dengan sekeluargaku sekarang. Di hutan yang lebat dengan hujan ini.. di ruang makan ini.
dan yang lebih baik lagi, akulah yang memasakan makanan untuk mereka semua.
...tunggu.
BUK! Tikus itu akhirnya mati bucrat oleh kepalan tangannku. Ya wajar saja, seharusnya dia di piring tapi malah kabur. Mungkin aku tadi tidak begitu teliti kali ya.
Dan yah, karena ibuku itu tidak bisa menggunakan tangannya. Mau tidak mau aku harus menyuapinya.
"Nah, ibu, bilang AAaaaa" aku mengangkat tangannku yang berisi makanan di sendok ke ibuku. Tetapi, mulutnya tidaklah terbuka sama sekali.
Ya... entah kenapa ibu aku sekarang tidak mau membuka mulutnya.
Brak! Tiba - tiba ada sesuatu yang terjatuh sehingga membuatku kaget. Ternyata itu adalah tulang. Aku kira ada apa...
Cuacanya bagus sekali...
Dan juga, sekarang aku benar - benar beruntung.
Hehehe... kenapa? Pasti penasaran kan?
Hm? Tidak. Well, enggak apa - apa sih. Kalau enggak penasaran juga tetap akan aku kasih tahu..
Karena..
pada akhirnya. Impianku telah terkabul. Ya impianku telah terkabul.
Akhirnya aku bisa berkumpul dengan sekeluargaku sekarang. Di hutan yang lebat dengan hujan ini.. di ruang makan ini.
dan yang lebih baik lagi, akulah yang memasakan makanan untuk mereka semua.
...tunggu.
BUK! Tikus itu akhirnya mati bucrat oleh kepalan tangannku. Ya wajar saja, seharusnya dia di piring tapi malah kabur. Mungkin aku tadi tidak begitu teliti kali ya.
Dan yah, karena ibuku itu tidak bisa menggunakan tangannya. Mau tidak mau aku harus menyuapinya.
"Nah, ibu, bilang AAaaaa" aku mengangkat tangannku yang berisi makanan di sendok ke ibuku. Tetapi, mulutnya tidaklah terbuka sama sekali.
Ya... entah kenapa ibu aku sekarang tidak mau membuka mulutnya.
Brak! Tiba - tiba ada sesuatu yang terjatuh sehingga membuatku kaget. Ternyata itu adalah tulang. Aku kira ada apa...
Telah dimulai
Hanya memperingatkan.
Jangan menggunakan pemikiran biasaku untuk ceritaku.
dan juga aku pemiliki cerita nostalgia blog. Jadi aku akan memindahka beberapa cerita dari nostalgia blogku sekarang.
EDIT : Semuanya sudah kupindahkan sekarang... nikmati saja ceritanya...
dan juga aku pemiliki cerita nostalgia blog. Jadi aku akan memindahka beberapa cerita dari nostalgia blogku sekarang.
EDIT : Semuanya sudah kupindahkan sekarang... nikmati saja ceritanya...
Subscribe to:
Comments (Atom)