"Membosankan.... bukannya kehidupan ini membosankan?
Ataukah mereka kah yang membosankanku?
Ataukah aku yang bosan kepada mereka?"
- Qaniturrazan aka Neutral
Tuesday, July 29, 2014
Saturday, July 26, 2014
Hanya sebuah kutipan 3
"Kadang - kadang aku berpikir... kenapa harus ada pemikiran yang normal di dunia ini?
Dan juga sebenarnya, apa itu pemikiran normal?
Apakah mengejek nama orang itu pemikiran normal?
Apakah orang yang diam itu tidak normal?
Apakah orang yang suka diam di rumah itu tidak normal?
Hah... manusia... manusia..."
- Qaniturrazan aka Neutral
Dan juga sebenarnya, apa itu pemikiran normal?
Apakah mengejek nama orang itu pemikiran normal?
Apakah orang yang diam itu tidak normal?
Apakah orang yang suka diam di rumah itu tidak normal?
Hah... manusia... manusia..."
- Qaniturrazan aka Neutral
Monday, July 14, 2014
Hanya sebuah kutipan 2
"DI tahun ajaran baru ini... aku duduk sendiri...
Apa karena aku ini selalu tersenyum palsukah?
Apa karena aku itu terlalu bodohkah?
Apa aku itu terlalu berbeda dari mereka semua.
apa mungkin jangan - jangan tuhan telah memberiku tantangan, untuk menjadi monster yang bisa melakukan apapun semuanya sendiri?
...baiklah aku terima tantangan itu."
- Qaniturrazan aka Neutral
Apa karena aku ini selalu tersenyum palsukah?
Apa karena aku itu terlalu bodohkah?
Apa aku itu terlalu berbeda dari mereka semua.
apa mungkin jangan - jangan tuhan telah memberiku tantangan, untuk menjadi monster yang bisa melakukan apapun semuanya sendiri?
...baiklah aku terima tantangan itu."
- Qaniturrazan aka Neutral
Sunday, July 13, 2014
Hanya sebuah kutipan.
"Betapa menyenangkannya dunia ini...
betapa buruknya dunia ini....
betapa tidak konsistennya dunia ini..."
-Qaniturrazan aka Neutral
betapa buruknya dunia ini....
betapa tidak konsistennya dunia ini..."
-Qaniturrazan aka Neutral
Tuesday, July 8, 2014
Cara yang buruk untuk mengakhiri cerita yang menyedihkan.
Dunia ini benar - benar menyebalkan.
Pikirku sekarang yang sedang dipukuli oleh ayahku dengan
kedua tangannya yang besar. Ibu aku hanya bisa melihat diriku dengan tatapan
dingin sambil merokok di meja makan. Aku hanya bisa menerima serangan fisik
ayahku ini di sudut ruangan ini.
Saat disiksa, aku melihat langit yang bewarna biru. Entah
kenapa rasanya aku iri kepada langit tersebut, meski aku tidak tahu kenapa aku
iri kepada langit itu.
Tidak lama kemudian penyiksaan itu berakhir, mereka berdua
pergi meninggalkanku yang terluka seorang diri di ruangan ini. Aku hanya diam
membantu melihat langit yang berubah warna menjadi oranye.
Aku tidak mengerti... kenapa aku disiksa seperti ini...
lahir lemah begini... tidak mempunyai semangat hidup begini... juga...
kenapa aku lahir di dunia ini...
aku beranjak menuju kamarku. Kamarku hanyalah ruangan kosong
yang lantainya terdapat karpet. Di ujung kiri ruangan ini aku menyimpan buku
pelajaranku disana. Di ujung kanan nya terdapat baju yang aku gantung
menggunakan paku yang aku tancap di dinding. Apa boleh buat, masih beruntung
karena orangtuaku masih memberi aku sebuah ruangan untuk aku.
Keluargaku... ayahku yang dulunya seorang pekerja kantoran
sekarang berubah menjadi orang yang pemalas dan merokok. Sedangkan ibuku
hanyalah seorang perempuan yang sering pergi dengan pria - pria di malam hari.
Dia menikah kepada ayahku hanya karena dia "dihamili" olehnya. Jadi
mungkin bisa aku bilang kalau aku itu adalah anak yang tidak diinginkan.
Mungkin ada yang penasaran kenapa kamarku ini kosong tidak
ada apa - apa. Jawabannya simpel, karena ayahku sekarang sering meminjam uang
kepada rentenir, lalu dia gunakan uang itu untuk berjudi, tetapi dia selalu
kalah. Sehingga memberikan banyak hutang kepada keluarga ini. Dulunya disini
itu ada kamar dan juga meja belajar, tetapi sudah digadaikan demi hutang
tersebut. Apakah hutangnya masih ada? Maka aku jawab "masih, serta sangat
banyak.".
Aku melihat sekitarku. Kalau mungkin sekarang ini
ditayangkan di tv sebagai sinetron. Mungkin orang - orang akan sedih melihatku.
Juga aku akan menjadi karakter utama kali ya, yang menderita dulu di awal -
awal cerita namun di akhir - akhir menjadi orang yang paling bahagia di dunia
ini.
Hah... pada akhirnya kenyataan berbeda dengan apa yang
diimpikan. Pada akhirnya bebek tidak bisa terbang, kura - kura tidak akan
berlari cepat seperti kelinci. Begitu juga hal ini, pada akhirnya orang yang
hidupnya menderita akan menderita. Tidak akan ada seorang peri yang menolong
orang yang menderita.
...daripada berpikir tidak jelas begini, lebih baik belajar.
...
AKu sekarang pergi ke sekolah. Sekarang aku sekolah di SD
cibanungju. Aku didaftarkan ke sekolah ini karena dekat dari rumahku. Sebelum
itu juga... ayah masih menjadi pekerja kantoran dan sering membuat aku senang.
Hahaha... sekarang aku telah menjadi kelas 5, 2 tahu lagi hingga aku lulus
sekolah.
Ketika sampai di kelasku aku melihat mejaku penuh dengan
coretan, coretan - coretannya itu berisi...
"Dasar anak haram!"
"Mati saja..."
"Sudahmah bodoh tetapi tetap saja sekolah."
Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Sudah hampir setahun aku
mengalami hal ini, semenjak ayah telah berubah menjadi pemalas. Banyak sekali
gosip - gosip yang beredar tentang diriku. Gosip yang paling terkenal adalah
aku itu anak haram, dan aku adalah orang yang bodoh. Seharusnya hal itu tidak
dibilang gosip, karena aku pikir keduanya itu benar.
Pada saat guru datangpun, guru itu hanya mengacuhkan mejaku
yang terdapat coretan itu. Memulai belajar seperti tidak ada hal yang tidak
beres.
Sesaat pulang sekolahpun. Buku - bukuku dirobek oleh teman
sekelasku. Serta mereka juga melempar tasku ke suatu tempat sehingga aku harus
mencarinya hingga malam. Pada saat aku mencari tasku aku melihat keadaan
sekitarku, betapa menyenangkannya menjadi tanah atau tumbuhan. Yang diam saja
meski mereka tidak disiram, diinjak ataupun dilakukan apapun oleh manusia.
Aku berjalan, untuk pulang ke rumah. Pada saat itu aku
berpikir...
Akan sampai kapan aku terus begini?
Ditengah aku perjalanan, aku melihat sebuah jalan. Sebuah
jalan yang menanjak disekitarnya terdapat pohon dan rumput liar yang
mengerumuninya. Aku kaget, karena mungkin saking aku males hidup aku tidak
menyadari kalau ada jalan disini. Karena penasaran akhirnya aku mencoba untuk
menanjak ke atas.
Saat berada di puncak, aku melihat hanya ada satu buah pohon
yang besar. Pohon beringin yang sangat besar. Beberapa langkah kedepan, aku
melihat... sebuah kota. Kota malam hari yang sangat indah. Pada saat itu... aku
sekarang menyadari...
Aku berlari dan loncat dari gunung tersebut.
Ternyata aku itu tidak pantas untuk dilahirkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)