Tuesday, July 29, 2014

Kutipan tentang bosan.

"Membosankan.... bukannya kehidupan ini membosankan?
Ataukah mereka kah yang membosankanku?
Ataukah aku yang bosan kepada mereka?"
- Qaniturrazan aka Neutral


Saturday, July 26, 2014

Hanya sebuah kutipan 3

"Kadang - kadang aku berpikir... kenapa harus ada pemikiran yang normal di dunia ini?
Dan juga sebenarnya, apa itu pemikiran normal?
Apakah mengejek nama orang itu pemikiran normal?
Apakah orang yang diam itu tidak normal?
Apakah orang yang suka diam di rumah itu tidak normal?
Hah... manusia... manusia..."
- Qaniturrazan aka Neutral

Monday, July 14, 2014

Hanya sebuah kutipan 2

"DI tahun ajaran baru ini... aku duduk sendiri...
Apa karena aku ini selalu tersenyum palsukah?
Apa karena aku itu terlalu bodohkah?
Apa aku itu terlalu berbeda dari mereka semua.
apa mungkin jangan - jangan tuhan telah memberiku tantangan, untuk menjadi monster yang bisa melakukan apapun semuanya sendiri?
...baiklah aku terima tantangan itu."
- Qaniturrazan aka Neutral

Sunday, July 13, 2014

Hanya sebuah kutipan.

"Betapa menyenangkannya dunia ini...
 betapa buruknya dunia ini....
 betapa tidak konsistennya dunia ini..."
-Qaniturrazan aka Neutral

Tuesday, July 8, 2014

Cara yang buruk untuk mengakhiri cerita yang menyedihkan.

Dunia ini benar - benar menyebalkan.
Pikirku sekarang yang sedang dipukuli oleh ayahku dengan kedua tangannya yang besar. Ibu aku hanya bisa melihat diriku dengan tatapan dingin sambil merokok di meja makan. Aku hanya bisa menerima serangan fisik ayahku ini di sudut ruangan ini.
Saat disiksa, aku melihat langit yang bewarna biru. Entah kenapa rasanya aku iri kepada langit tersebut, meski aku tidak tahu kenapa aku iri kepada langit itu.
Tidak lama kemudian penyiksaan itu berakhir, mereka berdua pergi meninggalkanku yang terluka seorang diri di ruangan ini. Aku hanya diam membantu melihat langit yang berubah warna menjadi oranye.
Aku tidak mengerti... kenapa aku disiksa seperti ini... lahir lemah begini... tidak mempunyai semangat hidup begini... juga...
kenapa aku lahir di dunia ini...
aku beranjak menuju kamarku. Kamarku hanyalah ruangan kosong yang lantainya terdapat karpet. Di ujung kiri ruangan ini aku menyimpan buku pelajaranku disana. Di ujung kanan nya terdapat baju yang aku gantung menggunakan paku yang aku tancap di dinding. Apa boleh buat, masih beruntung karena orangtuaku masih memberi aku sebuah ruangan untuk aku.
Keluargaku... ayahku yang dulunya seorang pekerja kantoran sekarang berubah menjadi orang yang pemalas dan merokok. Sedangkan ibuku hanyalah seorang perempuan yang sering pergi dengan pria - pria di malam hari. Dia menikah kepada ayahku hanya karena dia "dihamili" olehnya. Jadi mungkin bisa aku bilang kalau aku itu adalah anak yang tidak diinginkan.
Mungkin ada yang penasaran kenapa kamarku ini kosong tidak ada apa - apa. Jawabannya simpel, karena ayahku sekarang sering meminjam uang kepada rentenir, lalu dia gunakan uang itu untuk berjudi, tetapi dia selalu kalah. Sehingga memberikan banyak hutang kepada keluarga ini. Dulunya disini itu ada kamar dan juga meja belajar, tetapi sudah digadaikan demi hutang tersebut. Apakah hutangnya masih ada? Maka aku jawab "masih, serta sangat banyak.".
Aku melihat sekitarku. Kalau mungkin sekarang ini ditayangkan di tv sebagai sinetron. Mungkin orang - orang akan sedih melihatku. Juga aku akan menjadi karakter utama kali ya, yang menderita dulu di awal - awal cerita namun di akhir - akhir menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.
Hah... pada akhirnya kenyataan berbeda dengan apa yang diimpikan. Pada akhirnya bebek tidak bisa terbang, kura - kura tidak akan berlari cepat seperti kelinci. Begitu juga hal ini, pada akhirnya orang yang hidupnya menderita akan menderita. Tidak akan ada seorang peri yang menolong orang yang menderita.
...daripada berpikir tidak jelas begini, lebih baik belajar.
...
AKu sekarang pergi ke sekolah. Sekarang aku sekolah di SD cibanungju. Aku didaftarkan ke sekolah ini karena dekat dari rumahku. Sebelum itu juga... ayah masih menjadi pekerja kantoran dan sering membuat aku senang. Hahaha... sekarang aku telah menjadi kelas 5, 2 tahu lagi hingga aku lulus sekolah.
Ketika sampai di kelasku aku melihat mejaku penuh dengan coretan, coretan - coretannya itu berisi...
"Dasar anak haram!"
"Mati saja..."
"Sudahmah bodoh tetapi tetap saja sekolah."
Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Sudah hampir setahun aku mengalami hal ini, semenjak ayah telah berubah menjadi pemalas. Banyak sekali gosip - gosip yang beredar tentang diriku. Gosip yang paling terkenal adalah aku itu anak haram, dan aku adalah orang yang bodoh. Seharusnya hal itu tidak dibilang gosip, karena aku pikir keduanya itu benar.
Pada saat guru datangpun, guru itu hanya mengacuhkan mejaku yang terdapat coretan itu. Memulai belajar seperti tidak ada hal yang tidak beres.
Sesaat pulang sekolahpun. Buku - bukuku dirobek oleh teman sekelasku. Serta mereka juga melempar tasku ke suatu tempat sehingga aku harus mencarinya hingga malam. Pada saat aku mencari tasku aku melihat keadaan sekitarku, betapa menyenangkannya menjadi tanah atau tumbuhan. Yang diam saja meski mereka tidak disiram, diinjak ataupun dilakukan apapun oleh manusia.
Aku berjalan, untuk pulang ke rumah. Pada saat itu aku berpikir...
Akan sampai kapan aku terus begini?
Ditengah aku perjalanan, aku melihat sebuah jalan. Sebuah jalan yang menanjak disekitarnya terdapat pohon dan rumput liar yang mengerumuninya. Aku kaget, karena mungkin saking aku males hidup aku tidak menyadari kalau ada jalan disini. Karena penasaran akhirnya aku mencoba untuk menanjak ke atas.
Saat berada di puncak, aku melihat hanya ada satu buah pohon yang besar. Pohon beringin yang sangat besar. Beberapa langkah kedepan, aku melihat... sebuah kota. Kota malam hari yang sangat indah. Pada saat itu... aku sekarang menyadari...
Aku berlari dan loncat dari gunung tersebut.

Ternyata aku itu tidak pantas untuk dilahirkan.

Friday, June 27, 2014

Itulah yang menyebabkan aku benci liburan ini (2)

Takdir
Apakah takdir itu telah menjadi ketentuan tuhan? Apakah kita dapat mengubahnya dengan kemampuan yang kita miliki?
Apakah takdir itu hal yang baik? Ataukah buruk?
Apakah takdir itu diperlukan bagi kita?
"Hahaha..." aku tertawa kepada diriku sendiri. Benar - benar aneh sekali aku berpikir seperti itu. Seperti aku itu bukanlah diriku sendiri. Perkenalkan namaku adalah Saya. Aku hanya seorang murid SMA kelas 2 yang mempunyai kehidupan seperti murid - murid lainnya. Tidak mempunyai hobi dan juga mempunyai masalah seperti orang - orang disekitarnya.
"Oi, kok diam saja sih!?" salah satu temanku mendatangiku yang sedang tertidur di meja. Aku hanya membalas dia dengan tatapa malas dan kembali tidur.
"...aku tidak mengerti apa yang kau maksud." temanku balas. Aku kembali menatap dia.
"Kamu tidak mengerti? Aku juga tidak!" kembali aku tertidur. Temanku menghela napas. "Kalau begitu, aku duluan ya. Udah lapar nih." dan pergi meninggalkanku. Sekarang aku sendiri, udara datang berhembus di samping kananku. Sayangnya udaranya dingin sehingga membuat tubuhku gemetar.
"hah..., kenapa hari ini dingin sekali?" gumamku. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam baju seragam. Sehingga kedua baju lenganku kosong tidak ada isinya. "Toh tidak ada orang yang mempedulikan ini bukan!?"
Aku tertidur.
...
Pada saat itu aku berpikir kalau kehidupan itu menyenangkan....
Aku juga saat itu berpikir kalau kehidupan adalah suatu anugerah.
Ya... saat itu aku tidak tahu apa - apa tentang kehidupan.
Kenyataan dan masa lalu itu berbeda.
Sekarang aku sedang di rumah. Berada di ruang tamu, sedang menonton tv. Aku duduk tidak jauh berhadapan dengan tv, aku juga memegang gelas berisi teh. Untuk membuat keadaanku ini hangat. Keadaan rumah ini kosong, hanya ada suara tv yang mengisi ruangannya.
Benar - benar sepi ya... pikirku terdiam melihat keadaan sekitar. Wajar sajar, orangtuaku sedang pergi kerja sehingga sering meninggalkanku sendiri. Sayangnya, aku adalah anak tunggal sehingga aku tidak mempunyai kakak ataupun adik. Ya, begitulah hidup.
Satu hal saja sih yang mengganggu. Keadaan disini dingin!!!
...
Karena aku bosan terus berada di rumah. Sekarang aku berada di jalan. Berjalan, menikmati keadaan malam yang dipenuhi oleh orang - orang. ADa yang berjualan, ada yang bersama teman - temannya bercanda, ada juga satu orang yang memainkan alat musiknya di angkot, banyaklah hal lainnya. AKu hanya melihat itu sambil berjalan - jalan. Aku sempat berpikir, kenapa aku melakukan hal yang tidak berguna seperti ini...
Jawabannya? Tidak ada tentunya! Hahaha!
"Hah..." tubuhku masih dingin. Ya, entah kenapa dalam satu hari ini tubuhku selalu saja dingin. Apa mungkin karena cuaca hari ini yang dingin? Aku lalu melihat sebuah gedung. Gedung apartemen yang menjulang tinggi, mungkin kalau aku hitung sekitar 2000 m. Gedung apartemen itu..., disitu tempat dimana ayahku bekerja. Sebagai seorang manajer sebuah apartemen. Aku ingat pada saat aku kecil ayah membawaku ke sini. saat itu dia masih sebagai seorang pelayan biasa, tetapi dia tidak pernah menyerah sehingga dia sekarang berhasil menjadi manajer.
Aku hanya melihat apartemen itu, tidak lama aku pergi meninggalkan tempat tersebut. Sekitar 10 menit aku berjalan, akhirnya aku berada di sebuah tempat. Sekolah, sekolah SD. Ya... disini, adalah tempat dimana ibu aku mengajar murid - murid. Karena keaktifannya mengajar dan juga karena dia yang disukai banyak murid. Membuatnya sekarang menjadi kepala sekolah. Sekolah itu mungkin masih ada kegiatan, karena terdapat beberapa ruangan di sekolah itu menyala terang.
...
Pada akhirnya...
Tempat terakhir dari perjalananku ini...
Adalah... rumahku sendiri. Ya, rumah yang biasa saja, tidak besar dan juga tidak kecil. Tetapi, rumah ini kosong tidak ada siapa - siapa. Benar - benar menyedihkan sekali sekarang ini, orangtuaku itu adalah orang yang bekerja giat, sehingga akhirnya mereka mendapat jabatan yang besar. Mereka terlalu giat sehingga melupakan anaknya sendiri. Hahaha, benar - benar menyedihkan...
Kedinginannku juga tetap berada di tubuhku. Kediginannku itu tidak hilang. Sekarang aku menyadari, aku menyadari kenapa kedinginanku itu tidak hilang...
Karena...
Tatapan dan kesadaranku semakin lama semakin tidak terkendali, dan akhirnya aku terjatuh di halaman depan rumahku.
...
AKu terbangun, melihat keadaan sekitarku. Ternyata aku berada di depan halaman rumahku. Pada akhirnya... orangtuaku tidaklah datang kepadaku, tidaklah membawaku ke rumah, atau paling tidak khawatir dengan keadaanku ini.
Ha...haha....HAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!
Begitulah...
Sekarang aku mengerti..
Hahahahaaaaaaa!!!!
...
hari kedua liburan ini... aku berada di sebuah restauran, restauran yang bernama reststauran "apa saja". Kenapa dinamakan restauran apa saja? Siapa yang tahu!? Mungkin karena memang restauran ini mempunyai segala makanan?
"..." aku duduk disamping seseorang dengan perempuan berbaju hitam. Lalu setelah pelayan itu melayani mereka, aku memanggilnya. "Bisa aku memesan teh asli dari jepang?" pelayan itu mengangguk dan mencatat pesananku. Dia pergi.
"...restauran ini..."

Hah... itulah kenapa aku benci liburan ini...

Saturday, June 21, 2014

Itulah yang menyebabkan aku benci liburan ini (1)

Sinar matahari pagi menyinari tubuhku. Suara cicadas siang berngiang - ngiang di hutan yang berada di belakangku. Aku sekarang sedang berada di jalan yang dibelakangnya ada hutan lebat. Menunggu seseorang. Sayangnya dia telat dari waktu yang telah dijanjikan.
"Maaf aku telat!" suara teriakan itu sudah aku kenal. Suara itu pasti dari dia. Seorang pacar perempuan yang seumuran dengannku. Berambut panjang seperti putri serta memakai gaun hitam.
"Tidak apa – apa, aku cuman menunggu 3 jam kok." jawabku tersenyum.
"...maaf." ucap dia dengan muka seperti anak kecil yang telah dimarahi orangtuanya.
"...sudahlah." sambil aku mengusap kepala dia. Dia senang.
"Nah, sekarang kita akan kemana?" aku bertanya kepada dia. "...terserah kamu saja! Aku senang kemanapun selama ada kamu!" setelah berkata itu dia tertawa.
"Begitu ya." aku meregangkan  badanku. Menghela napas.
"ayo, kita pergi."
"Ya!"
...
Sekarang aku berada sekolah. Sekolah menengah atas biasa yang tidak special atau istimewa. Disini dimana aku, masih belajar sampai sekarang.
"Apa  ada yang kau inginkan disini?" perempuan itu bertanya.
Aku mengingat masa laluku, seorang pria berada di tengah wc sekolah, sedang dikerumuni oleh beberapa orang pria. Lalu tidak lama kemudian pria yang berada di tengah wc itu sendiri, memiliki banyak memar dan luka di tubuhnya.
"Tidak, tidak ada yang aku inginkan disini. Aku hanya ingin melihat saja.” Tanpa ekspresi aku katakan hal itu kepada dia. Dia hanya tersenyum kepadaku sambil berkata
“Begitu.” Lalu kami berdua menuju ke sekolah. Melihat keadaan sekolah yang kosong karena sekarang libur sekolah. Padahal sekolah ini kosong, kenapa gerbangnya tidak ditutup? Aneh – aneh saja ini sekolah.
Saat berjalan – jalan, aku menemukan sebuah kelas sebuah kelas yang berada di ujung korridor di depanku ini, aku ke sana. Melihat kelas yang pintunya terbuka. Sebenarnya semua ruangan di sekolah ini ruangannya tidak terkunci sehingga bisa dibuka, hanya saja hanya kelas ini saja yang pintunya terbuka.
Aku masuk ke kelas ini, melihat keadaan kelas yang meja dan kursinya di tata rapi berjejer 4 baris dengan bangku yang terdiri dari satu meja dua kursi. Aku dan dia hanya melihat kelas ini dengan tatapan hampa. Tidak, hanya aku saja yang menatap ini dengan hampa. Dia tetap tersenyum seperti biasa.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” dia bertanya kepada aku yang sedang melihat kolong meja satu demi satu. Aku tidak jawab dia dan terus mencari. Sampai, pada saat aku berada di meja paling belakang ujung kanan. Aku menemukan sebuah buku. Buku yang sampul depannya terobek – robek sehingga kertas putih di dalamnya dapat terlihat sedikit.
Aku membuka buku itu, buku itu berisi materi tentang pelajaran sejarah. Tidak ada hal yang aneh disana, kecuali saat halaman terakhir.
“DIE” terdapat kata itu di halaman terakhir buku tersebut.
“Itu buku siapa!?” tiba – tiba perempuan itu berada di belakangku. Melihat buku itu dengan tersenyum.
“...bukan punya siapa – siapa.” Aku menutup buku itu, mengembalikan kembali ke kolong. Setelah itu aku keluar kelas, berjalan dan sekarang aku berada di luar sekolah.
“Sekarang kita mau kemana!?” perempuan itu bertanya kepadaku.
“Kita ke...”
...
Sekarang kami berdua berada di depan perpustakaan. Bukan perpustakaan sekolah, tetapi perpustakaan umum yang terletak di samping jalan raya. Kami berdua sedang berada di depan pintu masuk perpustakaan ini.
“Hei, apa kamu ingat tempat ini!?” tanyaku kepada dia. Dia yang mendengar itu tertawa kecil.
“ ...tentu saja. Inikan tempat kita berdua pertama kali bertemu bukan!?” perempuan itu dengan tersenyum berkata.
Ya, pada saat hujan deras itu... Ketika hujan deras yang membasahi tubuhku. Aku bertemu dengan dia yang sedang berteduh di depan gerbang perpustakaan. Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
“Semenjak itu, kita berdua sering bertemu disini ya...”
“Ya... sehingga sekarang kita begini.”
“Huhuhu... iya.” Ya..., sampai menjadi begini.. hal merah itu.... dia... orang – orang yang mengemuni di wc itu...
Bep! Bep! Bep! Jam tangan yang berada di tangan kananku menunjukan pukul sebelas siang.
“...hei”
“Ada apa!?”
“Memangnya kedua orangtuamu membolehkanmu untuk keluar rumah sekarang!?” dia terdiam sejenak dengan tersenyum.
“Iya, orangtuaku mengizinkanku. Memangnya kenapa!?”
“Begitu ya..., oh ya. Sekarang aku ada urusan dulu. Apa kamu tidak apa – apa pulang sendiri!?”
“...tidak apa – apa kok.”
“Lagipula aku juga sekarang disuruh pulang oleh kedua orang tuaku.” Lanjut dia berkata kepadaku.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya..., hati – hati di jalan.” Aku melambaikan tanganku kepadanya, dia balas juga dengan senyum sambil melambai.
Akhirnya sekarang aku sendiri. Aku sendiri berada di taman. Sedang duduk terdiam tidak jelas. Melihat air mancur yang berada di depan. Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, tetapi tidak bisa. Karena saat ini orangtuaku mungkin masih berada pada hubungan tidak baik.
“Tapi... sekarang apa yang harus kamu lakukan!?”
“Bagaimana kalau kamu menalukkan dunia!?” tiba – tiba orang itu berada di samping kananku. Orang itu diperban dan seluruh tubuhnya kecuali mulut dan juga dia memakai headset besar. Dia sedang melihat diriku tersenyum.
“HAH!?”
“Kenapa!? Kaget karena penampilanku ya!?”
“Tidak. Sebenarnya aku kaget karena perkataanmu!?”
“Perkataanku!? Bukan karena penampilanku ini!?”
“...kalau penampilan... daripada kaget aku lebih suka mengatakan kalau itu aneh.”
“...begitu...” dia menundukan kepalanya ke bawah. “Tapi!!!” kepala dia menaik ke atas. “Tidak apa – apa! Aku sudah sering mendengarkan itu, jadi hal itu sudah biasa!”
“...jadi sebenarnya apa urusanmu denganku!?”
“Urusanku!? Cuman satu. Tempat ini itu merupakan tempat dudukku dan sekarang kamu mendudukinya.”
“Terus!?”
“Tidakkah sudah jelas!? Beranjak lah dari kursi ini! Aku ingin duduk di sini tahu!!!”
“...tidak mau.”
“eh!? Kenapa!?”
“Karena aku malas. Lagipula aku tidak tahu kemana sekarang...”
“...begitu. Ternyata di dunia ini banyak sekali orang jahat ya...”
“Hei, hanya karena aku malas dari tempat duduk ini, bukan berarti aku itu orang jahat.”
“...tidak peduli. Jahat tetap jahat. Yasudah aku pergi saja!” laki – laki itu pergi meninggalkan taman ini. Sekarang aku kembali lagi sendiri. Dasar orang aneh, tiba – tiba datang dan juga marah – marah tidak jelas.
Lalu gimana pula dia bisa melihat jika seluruh tubuhnya di perban!? Terus gimana dia bisa mendengar kalau telinganya di tutupi headset? ...apa mungkin aku berhalusinasi kalau dia itu ada?
...
Pada saat sore aku pulang ke rumah. Karena pada akhirnya setelah laki – laki perban itu pergi aku hanya melihat air mancur seperti biasa. Hah... aku menghela napasku saat berjalan sekarang. Pada saat aku tiba di rumah aku membuka pintu.
Korridor rumah ini kosong. Memang biasanya kosong, tetapi tidak sekosong sekarang. Seakan – akan tidak ada yang menghuni lagi disini. Merasa aneh, aku ke ruang tamu yang berada di dekatku, disana tidak ada seorangpun ada. Aneh, biasanya ayah atau ibu aku selalu ada disini kalau mereka berdua ada di rumah.
Apa jangan – jangan mereka pergi!? Tidak kalau mereka pergi seharusnya rumah ini dikunci. Tapi entah kenapa aku tidaklah takut atau khawatir ada apa – apa kepada orangtuaku. Aku dengan tenang hanya menyelusuri rumahku ini.
Hingga...
Di kamar orangtuaku.
Aku melihat kedua orangtuaku. Terbaring di lantai dengan karpet merah yang berada di bawahnya. Di tengah orangtuaku itu terdapat seseorang yang kedua tangannya bewarna merah. Lebih tepatnya, Perempuan berambut hitam dan bergaun hitam yang sebagian di tengah tubuhnya terdapat banyak noda merah.
“Ah! Kamu sudah datang!?” dia berkata itu dengan tersenyum sambil membawa sebuah kado. Sebuah kado berkain hijau dengan pita merah. Beberapa noda merah juga terdapat di kain hijau karena kedua telapak tangannya yang berdarah.
“Ini! Selamat ulang tahun! Aku punya hadiah untuk kamu!” kado itu dia lentangkan ke diriku. Aku mengambil kado itu, membukanya.
Di dalam kado itu terdapat kepala kedua temanku dan juga kedua kepala yang tidak aku ketahui. Ekspresi muka kedua temanku terbelak dengan mata dan lidah yang seakan – akan ingin keluar , sedangka kedua kepala satu lagi tertutup matanya dengan tenang, seakan sedang tidur.
“Bagaimana!? Bagus bukan hadiah itu!?”
“Kepala kedua temanku itu aku dapat kemarin lusa malam. Saat mereka sedang tidur pulas di rumah mereka masing – masing. Aku mendatangi rumah mereka satu demi satu. Tentu saja aku menyapa orang tua mereka dengan baik. Sehingga pada akhirnya aku bisa ke kamar mereka dan menyiksa mereka sehingga kepala mereka bisa seperti itu! Hahaha! Padahal sering menyiksa orang, tapi pada saat disiksa malah meronta – ronta meminta ampun!!”
“Dan! Dan! Setelah itu! Lihat dua kepala yang terdiam itu bukan!? Itu adalah kepada orangtuaku. Pada saat mereka tidur di kamar di satu ranjang, aku ambil kepala mereka tanpa disiksa dulu. Sehingga mereka bisa merasakan kesakitan yang sesaat! Bukankah aku baik!? Padahal mereka sering memukul dan juga mengusir diriku tapi aku masih baik membiarkan mereka mati tanpa disiksa dulu!”
“Yang terakhir! Adalah ini! Kedua orangtuamu! Yang selalu saja bertengkar tanpa memperhatikan dirimu sama sekali. Yang juga membuatmu kabur dari rumah inI! Tetapi, akhirnya aku bisa membuat mereka diam. Dan lihat mereka berdua mati sambil berpegangan tangan! Bukankah kamu senang karena orangtuamu telah baikan sekarang!?”
...aku tidak berkata apa – apa. Hanya...
“Eh!?” aku memeluk. Memeluk dia tanpa mempedulikan dirinya yang berdarah ini. Aku peluk erat – erat. Dia kaget saja dengan perilakuku yang begini.
“Cukup sudah cukup... kamu memang anak baik...”
“...apa maksudmu? Aku tidak mengerti...”
“Tidak ada maksud apa – apa kok. Terima kasih hadiahnya...” ya..., pada akhirnya kejadian ini terjadi kembali. Aku sudah tahu kalau dia sudah rusak begini, aku juga sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Tetapi... tidak apa – apa...
Pada akhirnya aku masih mencintaimu...
---
Pagi yang cerah ini, aku dan dia sekarang berada di restaurant. Restaurant yang berbentuk atapnya punden berundak – undak dengan judul “Restaurant Apa saja”. Aku terpaksa untuk makan di restoran ini, karena bau rumahku itu bau mayat. Membuat nafsu makanku hilang.
“Hei, kamu mau pesan apa!?” tanya dia kepadaku.
“Kalau kamu mau apa!?”
“Kalau aku sih. Apapun makanannya yang kamu sukai.” Jawab dia tersenyum.
“Begitu ya... kalau begitu...” aku memanggil salah satu pelayang perempuan di dekat sini.
“nasi gila porsi raksaksa ya. Oh ya pedasnya juga banyak. Untuk dua orang.” Pelayan itu terbengong sejenak, menulis pesanan itu dan pergi dari tempat ini.
“...itu makanan yang tidak aku sukai.”
“Kan, katanya makanan yang sama dengan aku.”
“U...Bodoh!” kesal dia sambil memukulku.
Hah... padahal baru hari kedua liburan. Tetapi, sekarang aku harus membereskan mayat dan juga bukti...  padahal aku ingin tidur sebanyak banyaknya di liburan ini...
Aku melihat dia, dia tersenyum saja melihat aku yang begini. Aku menghela napas.

Itulah kenapa aku benci liburan ini.
(C)opyright Neutral