Friday, May 30, 2014

Ah itu dia...

Aku sedang memikirkan suatu kata. Tidak tahu tentang apa, aku tetap saja memikirkan perkataan itu. Aku punya perasaan kalau perkataan itu sering aku ucapkan kepada pikiranku.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" bahkan - bahkan temanku mengarakan hal itu ketika kami berdua makan di kantin. Tapi, aku hanya mengatakan kepada mereka aku hanya melamun karena aku pikir kalau lupa bukannya perkataan itu tidak berguna?
Lalu pada saat di rumah aku membuka laptop dan memainkan game yang berada di dalamnya. Entah kenapa pada saat main game aku merasa perkataan itu sering dibilang kepada orangtuaku ketika bermain game. Entah kenapa, setelah mengingat itu aku malas bermain game, segera ke kamar untuk mengganti baju.
Setelah mengganti baju, aku belajar karena aku tidak ada kerjaan lain, makanya sekarang aku belajar. 10 menit, 20 menit, aku belajar tetapi tidak ada apapun yang masuk ke dalam pikiranku. Padahal waktu sd, aku adakah orang yang paling pintar di kelas, sekarang? Paling bodoh di kelas. ...entah kenapa, saat aku berpikir itu aku merasa kata itu sering aku katakan ketika aku sendiri di kamar.
Besoknya, aku kembali sekolah. Saat perjalanan di sekolah, aku melihat seseorang yang cantik, berwivawa, dan anggun berjalan. Banyak laki - laki yang terpikat kepada dia. Aku nengetahui itu karena wajah mereka yang menghadap dia dengan senangnya.
"Hei! Tidakkah kau lihat dia? Sudah baik! Pintar! Cantik lagi! Siapa coba yang tidak suka sama dia?"
"Ya banget! Enak ya, aku jadi iri yang sekelas sama dia"
Begitulah kata beberapa orang laki - laki itu. Aku mengacuhkan mereka dan berjalan ke kelasku. Tidak tahu kenapa melihat mereka aku merasa bahwa aku sering mengatakan kata tersebut.
Sebenarnya apa kata itu?
...
Pulang sekolah, aku keluar dari gerbang. Lebih tepatnya, berdiam diri di gerbang. Melihat orang berjalan, ada yang berjalan ke kanan arahku, ke kiri arahku, dan ada yang menyebrang di zebra cross.
Sebenarnya untuk apa aku melihat ini? Toh rumahku itu bukan melewati gerbang depan sekolah ini.
Keluar dari gerbang belakang, berjalan menginjak aspal abu yang tebal ini, aku bukan di jalan raya loh, tetapi di jalan kompleks yang alebarnya hanya muat 2 orang saja.
Aku berhenti. Melihat keadaan sekitar, tapi aku tidak melihat apa - apa kecuali satu jalan yang searah jalanku.
Aku berjalan, di satu jalan itu. Lama kelamaan, jalan itu mengantarkanku ke tempat ini. Tempat yang mirip taman, tetapi yang beda hanyalah di tempat ini hanya terdapat beberapa kuburan dan juga satu kursi dan tali menggantung di depanku.
Saat itu aku tahu apa kata - kata yang aku cari selama ini.
"Kenapa aku tidak mati saja?"

Wednesday, May 28, 2014

terkunci

Apa yang terjadi denganku? Itulah yang aku pikirkan sekarang yang sedang terlentang di kamar tidurku. Aku mengangkat tubuhku. Keluar dari kamar dan menuju kamar mandi.
....kira - kira sudah berapa lama aku telah berubah, yang dulunya selalu bangun pagi dengan segar bugar seperti yang ingin menuju sekolah, sekarang hanyalah lesu menjalani kehidupan.
Aku menghela napas dan setelah mencuci muka aku berjalan ke ruang tamu. Aku duduk, mengambil remite yang berada di kursi dan menyalakan televisi. Di samping kanan televisi itu terdapat jendela.
"Sudah lama ya..." ucapku saat melihat jendela tersebut, kemudian kembali menonton televisi. Saat menonton televisi, aku ingat suatu hal, saat kecil aku sering bermain bersama teman - temanku dengan senang, tanpa memikirkan apapun. Sekarang? Aku tidak pernah bermain dengan "teman" lagi sekarang.
Ketika televisi menampilkan film tentang pertemanan. Aku langsung mematikan televisi. Soalnya kalau lihat itu bisa - bisa aku jadi ingin membunuh. Toh udah dilakukan sih.
Sebelum aku ingin kembali ke kamarku aku melihat pintu. Pintu yang dibelakangnya terdapat terlas yang ada satu pasang sendal. Aku segera ke pintu itu.
Membukanya.
Tidak terbuka.
Pintu itu tidak terbuka. Aku sudah tahu, aku sudah tahu kenapa pintu itu sudah tidak bisa terbuka. Karena aku sudah membuang kunci itu je suatu tempat.
Disini, di tempat ini aku terus diam. Agar seseorang yang diluar membukakan pintu untukku. Sebelum aku menjadi...


Tuesday, May 27, 2014

Lie

"Kalau begitu... aku mulai sekarang" ucap seorang laki - laki berjaket hitam yang duduk di hadapan seorang pria yang memakai baju seragam SMA. Pria itu hanya tersenyum polos kepadanya.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita mulai dari perkanalan dasar. Siapa namamu?"
"Namaku adalah Lie"
"...berapa umurmu?"
"Baju ini sudah memberitahumu."
"Terus..., apa yang kamu lakukan sekarang!?"
"Menggerakkan mulutku untuk membalas mulutmu."
"...aku ganti pertanyaannya. Apa kegiatan yang kamu sering lakukan, ah lebih tepatnya mungkin hobi kamu itu apa!?"
"Hobi aku ya..." pria itu hanya tertawa kecil dengan polos."Banyak sekali, bermain bersama dia, belajar bersama dia, tertawa bersama dia, marah sama dia, dan banyak sekali hal yang aku sukai." pria berjubah hitam hanya diam mendengar seksama perkatannya.
"Begitu ya..., senangnya yang punya hobi banyak, kalau aku malah enggak punya hobi. Enaknya jadi muda..."
"Ah, enggak itu biasa saja..." balas pria berbaju SMA itu.
"Lie, apakah kamu punya cita - cita di dalam hidupmu!?"
"Cita - cita!?"
"Ya, sesuatu yang ingin kamu capai selama hidupmu! Bukankah kau punya!?"
"...aku punya satu sih. Meski aku pikir itu tidak mungkin untuk mencapainya..."
"Apa itu!?"
"....." pria itu hanya tersenyum dengan polos melihat dia.
"...kalau kau tidak bisa bilang. Tida apa - apa, tidak perlu dipaksakan." tapi pria itu tetap terdiam.
"apa yang kamu pikirkan sekarang."
"Dia."
"Dia!?" orang berjaket hitam itu alisnya naik. "Apa kamu bisa menjelaskan lebih lanjut siapa itu dia!?"
"Dia... ya dia... selalu berada di sampingku. Selalu saja menghiburku ketika aku
erluka, selalu saja melapangkan dadanya untuk aku terdampar disana..."
"Selalu... semuanya selalu... YA... semuanya... dia... YA! Yaaa!!"
"Lie! Tenang! Tenang!"
"YAA!! DIA! DIA! KARENA MEREKA! KARENA MEREKA! MEMBUAT DIA MENJADI! MENJADI! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" tiba - tiba pria laki - laki itu mengamuk. Orang berjaket hitam itu segera keluar dari ruangan hingga di ruangan itu tidak ada siapa - siapa.
"..." setelah tenang, pria itu ke kamar tidur yang tidak jauh dari meja itu. Di sana terdapat seseorang yang berambut hitam tergeletak di kasurnya, Laki = laki itu hanya tersenyum dan merebahkan diri di kasur,
"Dengan ini... hanya ada kita berdua..."

Friday, May 23, 2014

Tidak ada yang membaca.

Sudah lama aku tidak kesini. Rasanya, masih sama saja tidak ada siapa - siapa.

Tetapi itu ok. Karena pada akhirnya aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Mulai sekarang aku akan terus bercerita.

Meski tidak ada seorangpun yang membacanya.