Saturday, June 21, 2014

Itulah yang menyebabkan aku benci liburan ini (1)

Sinar matahari pagi menyinari tubuhku. Suara cicadas siang berngiang - ngiang di hutan yang berada di belakangku. Aku sekarang sedang berada di jalan yang dibelakangnya ada hutan lebat. Menunggu seseorang. Sayangnya dia telat dari waktu yang telah dijanjikan.
"Maaf aku telat!" suara teriakan itu sudah aku kenal. Suara itu pasti dari dia. Seorang pacar perempuan yang seumuran dengannku. Berambut panjang seperti putri serta memakai gaun hitam.
"Tidak apa – apa, aku cuman menunggu 3 jam kok." jawabku tersenyum.
"...maaf." ucap dia dengan muka seperti anak kecil yang telah dimarahi orangtuanya.
"...sudahlah." sambil aku mengusap kepala dia. Dia senang.
"Nah, sekarang kita akan kemana?" aku bertanya kepada dia. "...terserah kamu saja! Aku senang kemanapun selama ada kamu!" setelah berkata itu dia tertawa.
"Begitu ya." aku meregangkan  badanku. Menghela napas.
"ayo, kita pergi."
"Ya!"
...
Sekarang aku berada sekolah. Sekolah menengah atas biasa yang tidak special atau istimewa. Disini dimana aku, masih belajar sampai sekarang.
"Apa  ada yang kau inginkan disini?" perempuan itu bertanya.
Aku mengingat masa laluku, seorang pria berada di tengah wc sekolah, sedang dikerumuni oleh beberapa orang pria. Lalu tidak lama kemudian pria yang berada di tengah wc itu sendiri, memiliki banyak memar dan luka di tubuhnya.
"Tidak, tidak ada yang aku inginkan disini. Aku hanya ingin melihat saja.” Tanpa ekspresi aku katakan hal itu kepada dia. Dia hanya tersenyum kepadaku sambil berkata
“Begitu.” Lalu kami berdua menuju ke sekolah. Melihat keadaan sekolah yang kosong karena sekarang libur sekolah. Padahal sekolah ini kosong, kenapa gerbangnya tidak ditutup? Aneh – aneh saja ini sekolah.
Saat berjalan – jalan, aku menemukan sebuah kelas sebuah kelas yang berada di ujung korridor di depanku ini, aku ke sana. Melihat kelas yang pintunya terbuka. Sebenarnya semua ruangan di sekolah ini ruangannya tidak terkunci sehingga bisa dibuka, hanya saja hanya kelas ini saja yang pintunya terbuka.
Aku masuk ke kelas ini, melihat keadaan kelas yang meja dan kursinya di tata rapi berjejer 4 baris dengan bangku yang terdiri dari satu meja dua kursi. Aku dan dia hanya melihat kelas ini dengan tatapan hampa. Tidak, hanya aku saja yang menatap ini dengan hampa. Dia tetap tersenyum seperti biasa.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” dia bertanya kepada aku yang sedang melihat kolong meja satu demi satu. Aku tidak jawab dia dan terus mencari. Sampai, pada saat aku berada di meja paling belakang ujung kanan. Aku menemukan sebuah buku. Buku yang sampul depannya terobek – robek sehingga kertas putih di dalamnya dapat terlihat sedikit.
Aku membuka buku itu, buku itu berisi materi tentang pelajaran sejarah. Tidak ada hal yang aneh disana, kecuali saat halaman terakhir.
“DIE” terdapat kata itu di halaman terakhir buku tersebut.
“Itu buku siapa!?” tiba – tiba perempuan itu berada di belakangku. Melihat buku itu dengan tersenyum.
“...bukan punya siapa – siapa.” Aku menutup buku itu, mengembalikan kembali ke kolong. Setelah itu aku keluar kelas, berjalan dan sekarang aku berada di luar sekolah.
“Sekarang kita mau kemana!?” perempuan itu bertanya kepadaku.
“Kita ke...”
...
Sekarang kami berdua berada di depan perpustakaan. Bukan perpustakaan sekolah, tetapi perpustakaan umum yang terletak di samping jalan raya. Kami berdua sedang berada di depan pintu masuk perpustakaan ini.
“Hei, apa kamu ingat tempat ini!?” tanyaku kepada dia. Dia yang mendengar itu tertawa kecil.
“ ...tentu saja. Inikan tempat kita berdua pertama kali bertemu bukan!?” perempuan itu dengan tersenyum berkata.
Ya, pada saat hujan deras itu... Ketika hujan deras yang membasahi tubuhku. Aku bertemu dengan dia yang sedang berteduh di depan gerbang perpustakaan. Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
“Semenjak itu, kita berdua sering bertemu disini ya...”
“Ya... sehingga sekarang kita begini.”
“Huhuhu... iya.” Ya..., sampai menjadi begini.. hal merah itu.... dia... orang – orang yang mengemuni di wc itu...
Bep! Bep! Bep! Jam tangan yang berada di tangan kananku menunjukan pukul sebelas siang.
“...hei”
“Ada apa!?”
“Memangnya kedua orangtuamu membolehkanmu untuk keluar rumah sekarang!?” dia terdiam sejenak dengan tersenyum.
“Iya, orangtuaku mengizinkanku. Memangnya kenapa!?”
“Begitu ya..., oh ya. Sekarang aku ada urusan dulu. Apa kamu tidak apa – apa pulang sendiri!?”
“...tidak apa – apa kok.”
“Lagipula aku juga sekarang disuruh pulang oleh kedua orang tuaku.” Lanjut dia berkata kepadaku.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya..., hati – hati di jalan.” Aku melambaikan tanganku kepadanya, dia balas juga dengan senyum sambil melambai.
Akhirnya sekarang aku sendiri. Aku sendiri berada di taman. Sedang duduk terdiam tidak jelas. Melihat air mancur yang berada di depan. Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, tetapi tidak bisa. Karena saat ini orangtuaku mungkin masih berada pada hubungan tidak baik.
“Tapi... sekarang apa yang harus kamu lakukan!?”
“Bagaimana kalau kamu menalukkan dunia!?” tiba – tiba orang itu berada di samping kananku. Orang itu diperban dan seluruh tubuhnya kecuali mulut dan juga dia memakai headset besar. Dia sedang melihat diriku tersenyum.
“HAH!?”
“Kenapa!? Kaget karena penampilanku ya!?”
“Tidak. Sebenarnya aku kaget karena perkataanmu!?”
“Perkataanku!? Bukan karena penampilanku ini!?”
“...kalau penampilan... daripada kaget aku lebih suka mengatakan kalau itu aneh.”
“...begitu...” dia menundukan kepalanya ke bawah. “Tapi!!!” kepala dia menaik ke atas. “Tidak apa – apa! Aku sudah sering mendengarkan itu, jadi hal itu sudah biasa!”
“...jadi sebenarnya apa urusanmu denganku!?”
“Urusanku!? Cuman satu. Tempat ini itu merupakan tempat dudukku dan sekarang kamu mendudukinya.”
“Terus!?”
“Tidakkah sudah jelas!? Beranjak lah dari kursi ini! Aku ingin duduk di sini tahu!!!”
“...tidak mau.”
“eh!? Kenapa!?”
“Karena aku malas. Lagipula aku tidak tahu kemana sekarang...”
“...begitu. Ternyata di dunia ini banyak sekali orang jahat ya...”
“Hei, hanya karena aku malas dari tempat duduk ini, bukan berarti aku itu orang jahat.”
“...tidak peduli. Jahat tetap jahat. Yasudah aku pergi saja!” laki – laki itu pergi meninggalkan taman ini. Sekarang aku kembali lagi sendiri. Dasar orang aneh, tiba – tiba datang dan juga marah – marah tidak jelas.
Lalu gimana pula dia bisa melihat jika seluruh tubuhnya di perban!? Terus gimana dia bisa mendengar kalau telinganya di tutupi headset? ...apa mungkin aku berhalusinasi kalau dia itu ada?
...
Pada saat sore aku pulang ke rumah. Karena pada akhirnya setelah laki – laki perban itu pergi aku hanya melihat air mancur seperti biasa. Hah... aku menghela napasku saat berjalan sekarang. Pada saat aku tiba di rumah aku membuka pintu.
Korridor rumah ini kosong. Memang biasanya kosong, tetapi tidak sekosong sekarang. Seakan – akan tidak ada yang menghuni lagi disini. Merasa aneh, aku ke ruang tamu yang berada di dekatku, disana tidak ada seorangpun ada. Aneh, biasanya ayah atau ibu aku selalu ada disini kalau mereka berdua ada di rumah.
Apa jangan – jangan mereka pergi!? Tidak kalau mereka pergi seharusnya rumah ini dikunci. Tapi entah kenapa aku tidaklah takut atau khawatir ada apa – apa kepada orangtuaku. Aku dengan tenang hanya menyelusuri rumahku ini.
Hingga...
Di kamar orangtuaku.
Aku melihat kedua orangtuaku. Terbaring di lantai dengan karpet merah yang berada di bawahnya. Di tengah orangtuaku itu terdapat seseorang yang kedua tangannya bewarna merah. Lebih tepatnya, Perempuan berambut hitam dan bergaun hitam yang sebagian di tengah tubuhnya terdapat banyak noda merah.
“Ah! Kamu sudah datang!?” dia berkata itu dengan tersenyum sambil membawa sebuah kado. Sebuah kado berkain hijau dengan pita merah. Beberapa noda merah juga terdapat di kain hijau karena kedua telapak tangannya yang berdarah.
“Ini! Selamat ulang tahun! Aku punya hadiah untuk kamu!” kado itu dia lentangkan ke diriku. Aku mengambil kado itu, membukanya.
Di dalam kado itu terdapat kepala kedua temanku dan juga kedua kepala yang tidak aku ketahui. Ekspresi muka kedua temanku terbelak dengan mata dan lidah yang seakan – akan ingin keluar , sedangka kedua kepala satu lagi tertutup matanya dengan tenang, seakan sedang tidur.
“Bagaimana!? Bagus bukan hadiah itu!?”
“Kepala kedua temanku itu aku dapat kemarin lusa malam. Saat mereka sedang tidur pulas di rumah mereka masing – masing. Aku mendatangi rumah mereka satu demi satu. Tentu saja aku menyapa orang tua mereka dengan baik. Sehingga pada akhirnya aku bisa ke kamar mereka dan menyiksa mereka sehingga kepala mereka bisa seperti itu! Hahaha! Padahal sering menyiksa orang, tapi pada saat disiksa malah meronta – ronta meminta ampun!!”
“Dan! Dan! Setelah itu! Lihat dua kepala yang terdiam itu bukan!? Itu adalah kepada orangtuaku. Pada saat mereka tidur di kamar di satu ranjang, aku ambil kepala mereka tanpa disiksa dulu. Sehingga mereka bisa merasakan kesakitan yang sesaat! Bukankah aku baik!? Padahal mereka sering memukul dan juga mengusir diriku tapi aku masih baik membiarkan mereka mati tanpa disiksa dulu!”
“Yang terakhir! Adalah ini! Kedua orangtuamu! Yang selalu saja bertengkar tanpa memperhatikan dirimu sama sekali. Yang juga membuatmu kabur dari rumah inI! Tetapi, akhirnya aku bisa membuat mereka diam. Dan lihat mereka berdua mati sambil berpegangan tangan! Bukankah kamu senang karena orangtuamu telah baikan sekarang!?”
...aku tidak berkata apa – apa. Hanya...
“Eh!?” aku memeluk. Memeluk dia tanpa mempedulikan dirinya yang berdarah ini. Aku peluk erat – erat. Dia kaget saja dengan perilakuku yang begini.
“Cukup sudah cukup... kamu memang anak baik...”
“...apa maksudmu? Aku tidak mengerti...”
“Tidak ada maksud apa – apa kok. Terima kasih hadiahnya...” ya..., pada akhirnya kejadian ini terjadi kembali. Aku sudah tahu kalau dia sudah rusak begini, aku juga sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Tetapi... tidak apa – apa...
Pada akhirnya aku masih mencintaimu...
---
Pagi yang cerah ini, aku dan dia sekarang berada di restaurant. Restaurant yang berbentuk atapnya punden berundak – undak dengan judul “Restaurant Apa saja”. Aku terpaksa untuk makan di restoran ini, karena bau rumahku itu bau mayat. Membuat nafsu makanku hilang.
“Hei, kamu mau pesan apa!?” tanya dia kepadaku.
“Kalau kamu mau apa!?”
“Kalau aku sih. Apapun makanannya yang kamu sukai.” Jawab dia tersenyum.
“Begitu ya... kalau begitu...” aku memanggil salah satu pelayang perempuan di dekat sini.
“nasi gila porsi raksaksa ya. Oh ya pedasnya juga banyak. Untuk dua orang.” Pelayan itu terbengong sejenak, menulis pesanan itu dan pergi dari tempat ini.
“...itu makanan yang tidak aku sukai.”
“Kan, katanya makanan yang sama dengan aku.”
“U...Bodoh!” kesal dia sambil memukulku.
Hah... padahal baru hari kedua liburan. Tetapi, sekarang aku harus membereskan mayat dan juga bukti...  padahal aku ingin tidur sebanyak banyaknya di liburan ini...
Aku melihat dia, dia tersenyum saja melihat aku yang begini. Aku menghela napas.

Itulah kenapa aku benci liburan ini.
(C)opyright Neutral 

No comments:

Post a Comment